Penjarahan dan Kerusuhan Melanda Prancis, WNI Dipastikan Tak Terlibat

oleh -
oleh
Kerusuhan di Prancis/kabar24.bisnis.com

PUBLIKKALTIM.COM – Prancis tengah dilanda kerusuhan buntut dari penembakan fatal oleh polisi terhadap pemuda 17 tahun.

Akibat hal itu, penjarahan dan kerusuhan terjadi di mana-mana.

Kendati demikian, Kementerian Luar Negeri RI memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang terdampak atau terlibat dalam kerusuhan di Prancis beberapa hari terakhir.

Kemenlu RI melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris menyatakan telah berkoordinasi dengan kepolisian Kota Nanterre serta simpul-simpul masyarakat Indonesia untuk mengecek hal tersebut.

“Hingga saat ini tidak terdapat WNI yang terdampak atau terlibat kerusuhan tersebut,” demikian keterangan resmi KBRI Paris, Jumat (30/6).

Kerusuhan terjadi di kawasan Prancis setelah seorang polisi menembak dari jarak dekat hingga menewaskan remaja 17 tahun.

Hal itu berawal dari sang remaja yang diduga melanggar lalu lintas.

Banyak warga turun ke jalan sebagai bentuk protes sewenang-wenang polisi dalam menghadapi kondisi tersebut.

Namun, aksi kemudian berkembang menjadi kerusuhan, hingga membakar kendaraan dan merusak properti publik.

Sebanyak 942 bangunan menjadi sasaran, 2.000 kendaraan dibakar, dan total 3.880 kebakaran terjadi dalam semalam, demikian laporan Le Figaro mengutip pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Polisi pun sempat menembakkan gas air mata kepada pendemo.

Kerusuhan pun menyebar ke daerah pinggiran Paris lainnya, seperti Seine-Saint Denis dan Villeurbanne, serta kota-kota besar lainnya termasuk Nantes dan Toulouse.

BERITA LAINNYA :  Puskesmas Juanda Telah Diresmikan, Wali Kota Andi Harun Mengaku Senang Bisa Persembahkan Pelayanan Kesehatan kepada Masyarakat

Layanan bus dan trem sudah dihentikan pada Kamis (29/6).

Kota Clamart juga menerapkan jam malam bagi seluruh warganya dengan alasan keamanan.

Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin menuturkan setidaknya 421 orang ditangkap dengan lebih dari separuh penangkapan terjadi di wilayah Paris, yakni di departemen Hauts-de-Seine, Seine-Saint-Denis, dan Val-de-Marne.

Perdana Menteri Prancis, Elisabeth Borne mengatakan pemerintah akan mempertimbangkan semua opsi, termasuk menyatakan keadaan darurat, untuk memulihkan kembali hukum dan ketertiban.

Jaksa mengatakan polisi yang membunuh remaja tersebut telah didakwa dengan pembunuhan dan ditempatkan dalam penahanan pra-sidang.

Pengacara polisi itu pada Kamis (29/6) juga mengatakan pelaku telah meminta maaf, termasuk kepada keluarga korban.

“Kata-kata pertama yang ia ucapkan adalah meminta maaf dan kata-kata terakhir yang dia katakan adalah permintaan maaf kepada keluarga,” kata Laurent-Franck Lienard , Kamis (29/6)  dikutip dari detik.com. (*)