Seperti dilaporkan AFP pada Kamis (15/10/2026), warga Dili tetap menjalankan aktivitas sehari-hari meskipun langit tampak kekuningan akibat kabut asap.
Sebagian besar warga mengenakan masker untuk mengurangi risiko paparan polusi udara setelah pemerintah mengeluarkan imbauan kesehatan.
Pemerintah Timor-Leste mengumumkan penutupan sekolah pada Rabu (14/10/2026).
Pemerintah mengambil langkah tersebut untuk melindungi kesehatan siswa, guru, serta anggota komunitas pendidikan lainnya dari dampak buruk pencemaran udara.
Pemerintah juga meminta keluarga menjaga anak-anak tetap berada di dalam rumah selama kondisi udara memburuk.
Selain itu, pemerintah menyarankan masyarakat menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Seorang bidan berusia 30 tahun, Sonya da Costa Soares, menyambut baik kebijakan tersebut.
Ia mengatakan polusi udara di Dili sempat mencapai tingkat yang sangat parah pada awal pekan ini.
“Baru-baru ini, polusi di Dili sangat parah,” kata Soares kepada AFP.
Ia mengungkapkan bahwa kabut asap bahkan menghalangi warga melihat matahari.
Menurutnya, penutupan sekolah menjadi langkah penting untuk menjaga keselamatan anak-anak, meskipun anaknya sendiri belum memasuki usia sekolah.
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menjadi salah satu sumber kabut asap yang menyebar ke sejumlah negara Asia Tenggara.
Kebakaran tersebut melanda wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Papua, serta membakar ratusan ribu hektare hutan dan lahan.
Indonesia kerap menghadapi kebakaran hutan selama musim kemarau.
Namun, fenomena El Niño yang kuat pada tahun ini memperburuk kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran di berbagai wilayah.
Kabut asap akibat kebakaran berkepanjangan itu turut meningkatkan pencemaran udara di Malaysia, Singapura, Filipina, dan Timor-Leste.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran hutan di satu negara dapat menimbulkan dampak kesehatan dan lingkungan hingga melintasi batas negara. (*)