Respon DPRD Kaltim Soal Polemik Seragam dan Buku Pelajaran, Harus Dibahas Secara Terbuka

oleh -
oleh
Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Ahmad Reza Fachlevi

PUBLIKKALTIM.COM – Pembelian seragam dan buku pelajaran jadi polemik belakangan ini. Hal ini bahkan ramai menjadi perbincangan warganet di media sosial.

Banyak masyarakat terutama dari kalangan orang tua murid mengeluhkan pembelian seragam dan buku pelajaran di sekolah yang dianggap cukup memberatkan.

Terkait hal ini, Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Reza Pahlevi turut angkat bicara. Ia meminta semua pihak untuk dapat bersikap bijak menyikapi polemik tersebut.

Politisi dari Partai Gerindra itu menilai keuhan masyarakat merupakan hal yang wajar. Pasalnya, saat ini masyarakat masih berusaha bangkit pasca pandemi Covid-19.

“Secara umum saat ini kondisnya memang belum pulih dari pandemi Covid 19. Karena itu wajar kalau ada orang tua keberatan dan tidak mampu kalau disuruh beli seragam dan buku sekolah,” ucap Reza.

“Sebab belum semua orang tua siswa sudah bangkit dari krisis ekonomi yang menyertai pandemi,” sambungnya.

Ia mendorong agar semua pihak terkait dapat duduk bersama membahas persoalan ini agar proses belajar mengajar dapat tetap terlaksana.

“Setiap keputusan, terutama terkait pembelian buku dan seragam, perlu melibatkan komite orang tua murid. Adakan pertemuan atau diskusi terbuka untuk membahas persoalan ini.”

Reza mengajak agar semua pihak tidak saling menyalahkan, menurutnya seragam dan buku pelajaran juga penting untuk siswa demi kelancaran proses pendidikan.

BERITA LAINNYA :  Menyikapi Dampak Kebijakan Kaltim Steril, Komisi IV DPRD Gelar Pertemuan Dengan Gabungan Asosiasi Pengusaha

Karena dengan menggunakan seragam, maka tidak terlihat ada perbedaan status sosial antara siswa satu dengan lainnya.

“Seragam bisa mendorong rasa persatuan dan mengurangi tekanan pada murid yang minder karena perbedaan penampilan.”

“Seragam juga jadi sarana membangun identitas sekolah. Saat murid pakai seragam yang sama, juga menjadi bagian dari upaya menghargai nilai yang diterapkan sekolah,” tegasnya.

Kendati demikian, ia tidak ingin seragam dan buku pelajaran membebani orang tua siswa.

Pada prinsipnya ia berharap pihak sekolah dapat mempertimbangkan situasi finansial orang tua siswa.

“Akan lebih baik jika pihak sekolah menyediakan program bantuan bagi keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan seragam dan buku. Pokoknya, semua pihak harus bijak menyikapi, harus ada keseimbangan antara kebutuhan murid, orang tua, dan kepentingan sekolah,” jelas Reza.

“Komunikasi dan transparansi antara semua pihak yang terlibat sangat diperlukan untuk mencapai solusi lebih baik,” pungkasnya.

(*)