Tanggapi Kenaikan BBM, Pengamat Politik Nilai Puan Maharani Tak Konsisten 

oleh -
Ketua DPR RI Puan Maharani/jpnn.com

PUBLIKKALTIM.COM – Pengamat politik Jamiluddin Ritonga menyoroti perbedaan sikap yang diperlihatkan Ketua DPR RI Puan Maharani.

Perbedaan sikap yang disoal Jamiluddin yakni dalam menanggapi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan era Presiden Joko Widodo.

Menurut Jamiluddin, Ketua DPP PDI Perjuangan itu dianggap tidak konsisten.

Pasalnya, kata Jamiluddin, di era SBY, Puan Maharani dengan tegas menyatakan penolakan, bahkan hingga meneteskan air mata.

Sementara saat ini, Puan Maharani seolah diam menanggapi kenaikan harga BBM ini.

“Ketika Puan masih menjadi oposisi di era Susilo Bambang Yudhoyono presiden, ia dengan tetesan air mata terisak-isak menolak kenaikan BBM,” ujar Jamiluddin Ritonga kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (3/4) dikutip dari eramuslim.com.

Jamiluddin mengatakan inkonsistensi sikap ini terjadi karena posisi Puan dalam percaturan politik turut berbeda.

Saat SBY memimpin posisi Puan adalah bagian dari oposisi.

BERITA LAINNYA :  Buntut Pernyataan Arteria Dahlan Soal Sunda, Pengamat Politik Singgung Nasib Suara PDIP di Jawa Barat 

Sementara di era Jokowi dia berada pada lingkaran koalisi.

Jadi wajar jika masyarakat kemudian memaknai air mata Puan Maharani sebatas pencitraan politik belaka.

Anggapan ini akan berbeda jika Puan kembali tegas menolak kenaikan BBM.

“Perbedaan sikap Puan itu wajar mendapat kritik pedas dari masyarakat. Sebab, air mata Puan saat itu bukan karena pedih melihat rakyat semakin susah karena kenaikan BBM. Air mata Puan akhirnya dimaknai masyarakat hanya untuk kepentingan politik,” tegas Jamiluddin.

“Puan dinilai bukan memperjuangkan masyarakat, tapi air matanya hanya pencitraan semata,” pungkasnya. (*)