PUBLIKKALTIM.COM – Hujan deras yang mengguyur Kota Balikpapan sejak Kamis sore kembali menghadirkan pemandangan yang sudah akrab bagi warganya banjir di jalan utama. Dua kawasan yang paling terdampak kali ini adalah Jalan MT Haryono dan BJBJ (Balikpapan Baru Jalan Jenderal), di mana air meluap hingga setinggi lutut orang dewasa, membuat arus lalu lintas lumpuh dan banyak kendaraan terjebak di tengah genangan.
Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 16.00 WITA ketika hujan mulai mengguyur deras tanpa jeda. Dalam waktu kurang dari satu jam, air mulai naik ke permukaan jalan dan merendam sebagian besar jalur utama yang menghubungkan kawasan pusat kota dengan wilayah perumahan dan komersial di Balikpapan Selatan.
Salah satu pengemudi ojek online, Asmy Coy, yang tengah melakukan siaran langsung melalui akun TikTok-nya, memperlihatkan situasi yang terjadi secara real time. Dalam video tersebut terlihat jalan MT Haryono berubah seperti sungai dengan arus deras berwarna kecokelatan.
“Jalan MT Haryono banjir dalam, airnya sampai lutut, bahkan hampir selutut orang dewasa,” ujar Asmy dalam siaran langsungnya.
Asmy mengungkapkan bahwa air yang menggenangi jalan bukan berasal dari hujan yang meresap di permukaan, melainkan luapan dari saluran drainase yang tak mampu menampung curah hujan tinggi.
“Air ini deras sekali dari arah drainase. Bukannya air masuk ke got, malah sebaliknya airnya keluar ke jalan raya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini sangat membahayakan pengendara, terutama sepeda motor, karena banyak yang kehilangan keseimbangan atau mengalami mogok mesin.
“Teman-teman ojol di grup banyak yang bilang motor mereka mogok. Di BJBJ Dalam malah parah banget, katanya air sudah nyentuh knalpot,” tambahnya.
Kesaksian senada datang dari Surya (20), pengemudi ojek online lainnya yang kebetulan melintas di kawasan BJBJ ketika hujan mulai deras. Ia mengaku tidak sempat menepi karena air naik sangat cepat hanya dalam hitungan menit.
“Saya lagi antar pesanan, tiba-tiba air naik cepat. Banyak motor yang langsung berhenti di tengah jalan karena takut mogok. Di BJBJ itu parah banget, air sampai lutut,” katanya.
Menurutnya, banyak pengendara yang terpaksa memarkir kendaraan di tempat tinggi, seperti trotoar atau halaman pertokoan, sambil menunggu air surut. Beberapa warga bahkan tampak berusaha menghalangi air masuk ke rumah menggunakan papan kayu dan sekop untuk mengalihkan arus air ke jalan besar.
“Air dari arah perumahan langsung turun ke jalan. Kalau lihat arusnya, kayak air dari gunung kecil, deras banget,” ujar salah satu warga bernama Sabrina, yang rumahnya tak jauh dari lokasi banjir.
Hingga malam hari, genangan air di kawasan MT Haryono belum menunjukkan tanda-tanda surut. Dari pantauan di lapangan, belum terlihat adanya petugas dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) atau BPBD Balikpapan yang melakukan penyedotan air. Sementara warga sekitar hanya bisa berjaga-jaga di depan rumah masing-masing, khawatir air akan semakin tinggi.
“Sudah dari sore airnya begini, belum ada yang datang. Kami cuma bisa tunggu hujan reda dan air turun sendiri,” kata Ridwan, warga RT 38 MT Haryono.
Kawasan MT Haryono memang dikenal sebagai salah satu titik langganan banjir di Balikpapan. Letaknya yang berada di area cekungan dan diapit oleh perbukitan menyebabkan air hujan dari wilayah atas langsung mengalir ke bawah. Ketika curah hujan tinggi, drainase di sepanjang jalan ini tidak mampu menampung volume air, sehingga mudah meluap.
Selain buruknya sistem drainase, warga juga menyoroti maraknya pembangunan kawasan komersial di sekitar MT Haryono dan BJBJ yang memperparah situasi. Penurunan daya resap tanah akibat betonisasi dan minimnya area hijau membuat air hujan tidak bisa meresap ke dalam tanah.
“Sekarang banyak bangunan besar, ruko, dan parkiran beton. Dulu masih banyak tanah kosong yang bisa serap air. Sekarang air langsung lari ke jalan,” keluh Arifin, pedagang di sekitar kawasan tersebut.
Menurutnya, setiap kali hujan deras lebih dari satu jam, genangan pasti muncul dan menimbulkan kemacetan panjang. Beberapa warga bahkan mengaku sudah bosan dengan janji penanganan banjir yang belum kunjung terealisasi.
Banjir yang terjadi kali ini memang tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi dampaknya terasa luas. Selain menghambat aktivitas warga dan pengemudi transportasi online, banjir juga menyebabkan sejumlah toko dan rumah warga tergenang.
Warga menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase kota dan perencanaan tata ruang wilayah Balikpapan. Mereka berharap Pemerintah Kota segera turun langsung ke lapangan dan melakukan tindakan cepat, seperti pembersihan drainase, pembangunan sumur resapan, dan normalisasi sungai kecil yang mengalir ke arah MT Haryono.
“Setiap hujan deras pasti begini. Harusnya sudah jadi perhatian serius. Jangan biarkan warga terus jadi korban genangan,” ujar Asmy menutup siarannya.
Hujan deras Kamis sore seolah menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Kota Balikpapan bahwa masalah banjir masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum tuntas. Di tengah pesatnya pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, kota ini justru kian rentan terhadap bencana banjir akibat lemahnya pengelolaan lingkungan dan drainase.
(Redaksi)