PUBLIKKALTIM.COM – Iran menegaskan tidak ada negosiasi langsung dengan Amerika Serikat (AS) terkait konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei, menanggapi laporan mengenai pembicaraan antara kedua negara.
Baghaei mengatakan bahwa selama beberapa hari terakhir, Iran menerima pesan dari AS melalui “negara sahabat” yang menyatakan keinginan Washington untuk bernegosiasi guna mengakhiri perang.
Namun, Baghaei menegaskan bahwa tanggapan Teheran sesuai dengan posisi prinsipnya dan tidak ada dialog resmi atau negosiasi langsung dengan AS selama 24 hari terakhir.
“Setiap serangan terhadap infrastruktur vital Iran akan mendapat respons tegas, segera, dan efektif dari angkatan bersenjata kami,” tegas Baghaei kepada kantor berita resmi IRNA.
Ia menambahkan bahwa posisi Iran mengenai Selat Hormuz dan syarat-syarat penyelesaian konflik tidak berubah.
Eskalasi Konflik Semakin Meningkat
Ketegangan meningkat sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran.
Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran membalas serangan dengan meluncurkan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Serangan balasan ini menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan gangguan pada pasar global serta penerbangan internasional.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengaku bahwa pembicaraan dengan Iran baru-baru ini berlangsung “produktif.”
Pernyataan ini menimbulkan ketegangan narasi antara kedua negara, di mana Iran menolak klaim AS mengenai negosiasi, sementara Washington mencoba menegaskan adanya jalur diplomasi terbuka.
Situasi Regional dan Prospek Diplomasi
Para pengamat menilai bahwa komunikasi tidak langsung melalui negara perantara mungkin memang terjadi, tetapi Iran tidak mengakui hal itu secara publik.
Langkah ini dianggap sebagai strategi politik untuk menunjukkan ketegasan domestik dan menegaskan posisi di kancah internasional.
Dengan eskalasi yang terus meningkat, risiko konflik lebih luas masih tinggi.
Namun, adanya komunikasi melalui perantara menunjukkan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup, meski kedua belah pihak mempertahankan sikap keras di depan publik. (*)