PUBLIKKALTIM.COM – Unjuk rasa di Iran memasuki hari ke-10 pada Selasa (6/1), dengan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan yang semakin memanas.
Puluhan orang tewas dan ribuan ditangkap dalam protes yang awalnya menuntut perbaikan ekonomi, kini meluas menjadi desakan perubahan rezim.
Menurut laporan kelompok hak asasi manusia, bentrokan di lebih dari 250 lokasi di 27 provinsi telah menewaskan sedikitnya 29 orang. Lebih dari 1.200 orang ditangkap aparat keamanan.
Pasukan Iran menembakkan peluru tajam dan gas air mata untuk membubarkan demonstran, sementara kendaraan militer berjaga di titik-titik strategis di kota-kota besar.
Kementerian Dalam Negeri Iran menuding para demonstran sebagai “perusuh” setelah sejumlah gedung pemerintah, kendaraan publik, dan fasilitas umum dirusak.
Meski aparat menegaskan tindakan itu untuk menegakkan ketertiban, kelompok hak asasi manusia menyebut penggunaan kekerasan berlebihan terhadap warga sipil.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian berupaya meredam ketegangan dengan mendorong dialog nasional dan mempercepat program pemulihan ekonomi.
Namun, respons Ayatollah Ali Khamenei yang meminta demonstran “ditempatkan pada tempatnya” memicu kemarahan publik.
Awalnya, protes pecah akibat inflasi tinggi dan jatuhnya nilai rial. Namun, tuntutan cepat meluas hingga mendesak perubahan kepemimpinan di Iran.
Demonstrasi ini menandai gelombang ketidakpuasan terbesar terhadap rezim Khamenei dalam beberapa tahun terakhir.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat menyerang Venezuela pada 3 Januari 2026.
Presiden Donald Trump menyiratkan bahwa Iran bisa menjadi target berikutnya, sementara foto Trump memegang topi bertuliskan “Make Iran Great Again” diunggah Senator Lindsey Graham, memicu kekhawatiran di Teheran.
Media internasional menyoroti bahwa dukungan terbuka AS terhadap demonstran Iran menambah tekanan terhadap rezim, meski para pengamat menegaskan akar protes tetap berasal dari masalah domestik.
Iran mengutuk tindakan militer AS di Venezuela sebagai pelanggaran hukum internasional dan memperingatkan campur tangan asing dapat memperburuk situasi domestik.
Pemerintah juga menyerukan komunitas internasional untuk menahan diri dan mengawasi keamanan warga sipil.
Sementara itu, demonstrasi terus meluas di kota-kota besar.
Pakar menyebut ketegangan ini berpotensi memengaruhi stabilitas regional, terutama di kawasan Timur Tengah, jika konflik Iran–AS meningkat. (*)