PSSI Taruhkan Stabilitas Timnas pada John Herdman, Kontrak Panjang Jadi Ujian Komitmen

oleh -
oleh
John Herdman Pelatih Terbaru Timnas Indonesia/IST

PUBLIKKALTIM.COM – PSSI mengambil risiko besar dalam proyek pembinaan Tim Nasional Indonesia. Federasi sepak bola Tanah Air itu memilih mempertaruhkan stabilitas tim pada satu sosok dengan memberikan kontrak jangka panjang kepada John Herdman. Keputusan ini sekaligus menjadi ujian konsistensi PSSI dalam menjalankan proyek jangka panjang menuju Piala Dunia 2030.

Berbeda dari pendekatan sebelumnya yang cenderung pragmatis, PSSI kini mengedepankan keberlanjutan program. Penunjukan Herdman tidak hanya menandai pergantian pelatih, tetapi juga perubahan arah kebijakan federasi dalam mengelola tim nasional. Kontrak berdurasi empat tahun yang langsung diberikan sejak awal mencerminkan keinginan PSSI keluar dari siklus evaluasi instan.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir menilai sepak bola modern menuntut kesabaran dan kejelasan arah. Karena itu, federasi memilih memberikan waktu dan kewenangan luas kepada Herdman agar ia bisa membangun fondasi tim secara menyeluruh.

Kontrak Jangka Panjang Ubah Pola Relasi PSSI dan Pelatih

Pemberian kontrak hingga 2030 kepada Herdman menjadi preseden baru dalam sejarah Timnas Indonesia. Selama bertahun-tahun, pelatih tim nasional kerap bekerja di bawah tekanan target jangka pendek dan ancaman pemutusan kontrak dini.

PSSI menyadari pola tersebut tidak sejalan dengan ambisi besar menembus Piala Dunia. Erick Thohir menyatakan bahwa kontinuitas kepelatihan menjadi syarat utama membangun tim yang kompetitif di level Asia.

“Pelatih harus memiliki ruang untuk bekerja dan gagal dalam proses. Tanpa itu, kita hanya akan mengulang kesalahan yang sama,” ujar Erick.

Federasi menilai kontrak panjang bukan sekadar fasilitas, melainkan instrumen manajemen. Dengan durasi kerja yang jelas, PSSI berharap Herdman bisa menyusun program berjenjang tanpa terganggu dinamika jangka pendek.

Kendali Timnas Senior dan U-23 Disatukan

Selain kontrak panjang, PSSI juga memberikan kewenangan strategis kepada Herdman dengan menyatukan kendali Timnas Senior dan Timnas U-23. Kebijakan ini bertujuan menciptakan kesinambungan pembinaan dan mempercepat adaptasi pemain muda ke level tertinggi.

Dalam skema tersebut, Herdman berperan sebagai manajer teknis yang menentukan arah permainan, standar latihan, hingga proses seleksi pemain lintas usia. PSSI ingin memastikan bahwa setiap pemain yang naik ke tim senior sudah memahami sistem dan tuntutan permainan.

BERITA LAINNYA :  Erick Thohir Surati FIFA dan AFC, Protes Penunjukan Wasit Kuwait di Kualifikasi Piala Dunia 2026

Sumber internal PSSI menyebut penyatuan kendali ini sebagai langkah korektif. Federasi menilai fragmentasi tim nasional di berbagai level usia selama ini menghambat konsistensi performa.

Dengan model ini, PSSI berharap regenerasi pemain berjalan lebih terstruktur dan efisien.

Target Piala Dunia 2030 Jadi Tolok Ukur Utama

Meski memberikan kepercayaan besar, PSSI tidak menghapus target kinerja. Federasi tetap mematok sasaran jangka menengah dan panjang yang terukur. Fokus utama adalah meningkatkan daya saing Timnas Indonesia di Asia sebagai prasyarat menuju Piala Dunia 2030.

PSSI memahami tantangan yang ada tidak ringan. Indonesia masih tertinggal dari negara-negara mapan Asia. Namun, federasi menilai pembangunan tim yang konsisten akan memberi hasil lebih berkelanjutan dibanding kebijakan instan.

Erick Thohir menegaskan evaluasi terhadap Herdman akan dilakukan secara periodik, bukan reaktif. PSSI akan menilai progres permainan, kedalaman skuad, dan perkembangan pemain muda, bukan hanya hasil pertandingan semata.

Pendekatan ini diharapkan menciptakan iklim kerja yang sehat antara federasi dan tim pelatih.

Rekam Jejak Internasional Herdman Jadi Modal Utama

Kepercayaan PSSI terhadap Herdman bertumpu pada pengalamannya membangun tim nasional dari fase awal. Herdman sukses membawa Kanada tampil di Piala Dunia 2022 setelah penantian panjang, sebuah capaian yang dinilai relevan dengan kondisi Indonesia.

PSSI melihat Herdman sebagai figur yang terbiasa bekerja dalam proyek jangka panjang dan memahami pentingnya struktur pembinaan. Herdman sendiri menyatakan siap menjalani tantangan tersebut dan menilai Indonesia memiliki potensi besar jika dikelola dengan konsisten.

Dengan keputusan ini, PSSI tidak hanya menguji kemampuan Herdman, tetapi juga menguji dirinya sendiri. Pada akhirnya, keberhasilan proyek ini akan bergantung pada konsistensi federasi menjaga komitmen, bahkan ketika hasil di lapangan belum sepenuhnya sesuai harapan.

(Redaksi)