PUBLIKKALTIM.COM, BERAU – Beberapa waktu lalu, awak jurnalis di Samarinda kuti agenda kunjungan ke desa iklim di Kabupaten Berau.
Kunjungan dilakukan bersama dengan Biro Humas Pemprov Kaltim dan melewati beberapa desa. Salah satunya adalah Kampung Teluk Sumbang.
Kampung Teluk Sumbang, berjarak kurang lebih 300 kilometer dari Tanjung Redeb, mempunyai luas sekitar 15 ribu hektare termasuk lautan.
Sedikitnya ada 201 kepala keluarga dengan total penduduk 726 jiwa. Sebagain besar perekonomian penduduk adalah dengan bertani dan juga nelayan.
Selain masuk sebagai salah satu desa iklim di Kaltim, Kampung Teluk Sumbang juga memiliki kekhasan sendiri. Salah satunya yakni adanya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dikreasikan oleh warga.
Hal itu dilakukan karena belum adanya listrik dari PLN yang masuk ke kampung tersebut.
PLTS itu dibangun 2017 lalu dan mulai beroperasi tahun 2018.
Ada 1500 panel surya yang dapat menghasilkan tegangan listrik sebesar 430 Kilowatt-hour (kWh) dan melayani 130 pelanggan dengan harga Rp 1.460 per kWh.
Sebelum adanya PLTS ini, warga yang hendak merasakan terangnya malam harus menggunakan mesin diesel atau genset pribadi.
Rujeham sebagai ketua Supervisor di PLTS mengatakan, pendapatan dari yang dihasilkan PLTS itu sebesar Rp 13 juta perbulan dari 130 pelanggan.
Pendapatan itu dialokasikan untuk keuangan desa dan gaji operator di PLTS tersebut.
PLTS yang baru berjalan 1 tahun 4 bulan itu dibangun dan dinaungi oleh desa setempat (Desa Teluk Sumbang).
PLTS itu sudah memiliki badan hukum dengan nama PT Teluk Sumbang Energi.
“Ya PLTS ini dibangun 2017 dan beroperasi 2018, baru 1 tahun 4 bulan kami beroperasi dan dalam sebulan kami bisa peroleh Rp 13 juta dari 130 pelanggan yang ada di desa Teluk Sumbang ini,” ucap Rujeham, Selasa (5/11/2019).
Teluk Sumbang juga sudah pernah di kunjungi PT PLN (persero) dari Jakarta tapi memang PLN tidak menyanggupi pasokan listrik ke Teluk Sumbang lantaran jauhnya jarak tempuh dan medan yang susah.
“Kami tidak ada sangkut pautnya dengan PLN, pihak PLN pusat pernah meninjau kesini dan menanyakan, kenapa ada bangunan seperti ini tanpa sepengetahuan PLN? Tapi setelah ditinjau memang PLN tidak menyanggupi pasokan listrik ke sini karena terlalu jauh jarak untuk pasang tiang listrik.” tutup Rujeham. (*)