Siap-siap!! Sri Mulyani Prediksi Krisis 2023 Sangat Berat

oleh -
oleh
Menteri Keuangan Sri Mulyani/bisnis.com

PUBLIKKALTIM.COM – Perang Rusia dan Ukraina yang masih terus terjadi menjadi salah satu penyebab krisis pangan di 2023.

Diprediksi kemungkinan krisis pangan di 2023 akan lebih berat dibandingkan tahun ini.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam seminar nasional Badan Keahlian DPR RI, Rabu (19/10/2022).

“Di dalam pertemuan G20 diprediksikan krisis pangan tahun depan mungkin akan jauh lebih berat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan, Ukraina sebagai pemasok terbesar kebutuhan pangan dan pupuk untuk dunia, membuat saat ini harga pangan juga sudah melambung tinggi.

“Karena akses terhadap pupuk yang sekarang ini sangat-sangat terkendala akan mempengaruhi jumlah dari bahan pangan, tidak hanya tahun ini tapi justru tahun depan. Ini yang perlu kita waspadai,” ujar Sri Mulyani.

Harga pangan seperti kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) serta gandum juga saat ini terus mengalami gejolak.

Gejolak harga komoditas pangan ini pula yang menyebabkan inflasi di sejumlah negara.

Seperti di Amerika Serikat (AS) di mana inflasi pada September 2022 menyentuh level 8,2%, Uni Eropa 9,1%, Inggris Raya 9,9%.

Sementara Indonesia masih terjaga pada kisaran 5,9% pada September 2022.

BERITA LAINNYA :  Sri Mulyani Temui Presiden Jokowi, Isu Mundur dari Kabinet Kembali Menguat

“Kita bicara 40 tahun di mana inflasi hari ini di Amerika, Inggris, Eropa ini adalah yang tertinggi. Ini berarti 4 dekade di benua Amerika, Inggris dan Eropa. Itu mereka belum pernah mengalami inflasi yang setinggi ini,” jelas Sri Mulyani.

Dalam meredam inflasi yang tinggi tersebut membuat Bank Sentral di Inggris, AS, dan Eropa harus menaikkan suku bunga secara agresif, kenaikannya bahkan sebesar 75 basis poin (bps) dalam setiap keputusan moneternya.

Hal tersebut, kata Sri Mulyani akan menyebabkan pengetatan likuiditas, terutama hard currency dalam hal ini Dolar AS maupun Euro juga akan semakin menekan perekonomian.

“Nah kombinasi high inflation terutama karena komoditas dikombinasikan dengan high interest rate, yang akan memukul agregat demand ini akan menjadi salah satu fokus dari risiko yang terbesar,” pungkasnya. (*)