Ternyata Kesepian Itu Mematikan, Kini Tengah Melanda Korea Selatan

oleh -
oleh
Ilustrasi Kesepian/kompas.com

PUBLIKKALTIM.COM – Kata ‘Godoksa’ menjadi populer di Korea Selatan beberapa hari terakhir ini.

Kata ‘Godoksa’ digunakan untuk menyebut kematian dalam kondisi kesepian tanpa ada kerabat atau keluarga.

Kematian kesepian biasanya, dialami orang lanjut usia atau lansia.

Si korban mati kesepian seringkali baru ditemukan jasadnya setelah berhari-hari dan kondisinya mengenaskan.

Mengutip laporan Korea Herald, saat ini ada hampir sepertiga rumah tangga yang hanya terdiri dari satu orang di Korea Selatan.

Mereka inilah yang paling rentan mengalami mati kesepian.

Menurut Badan Statistik Korea, jumlah rumah tangga satu orang atau Kartu Keluarga yang berisi satu nama melonjak dari 5,39 juta pada 2016 menjadi 6,64 juta pada 2021.

Penyebabnya antara lain pensiun dini, perceraian, kesehatan yang memburuk dan pengangguran kaum muda yang lebih tinggi.

Selain semakin banyak orang yang hidup sendiri, social distancing selama masa pandemi Covid-19 disebut ikut menambah perasaan terisolasi bagi warga Korea.

“Orang dapat mengalami frustrasi psikologis dan kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan masyarakat karena mereka terkena perubahan sosial ekonomi,” ujar Lee Ho-sun, pemimpin Pusat Konseling Lansia Korea.

Menurut sebuah studi tahun 2016 oleh Yayasan Kesejahteraan Seoul, kematian tanpa pengawasan cenderung terjadi di akomodasi hidup berkualitas rendah, seperti tempat tinggal di atap tempat walikota Park saat ini dan sementara tinggal.

BERITA LAINNYA :  Penuhi Social Distancing, Cave di Daejong Korea Selatan Mengganti Baristanya dengan Robot

Di antara akomodasi lain di mana kematian tanpa pengawasan biasanya terjadi adalah goshiwon (kamar yang sangat kecil seperti sel penjara) dan jjokbang (kamar yang sangat kecil dengan ukuran biasanya 3,5 hingga 5 qm), yang tidak memenuhi standar perumahan yang layak menurut hukum hak asasi manusia internasional.

Kesepian Itu Mematikan

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kesepian dapat merusak kesehatan fisik seseorang, bahkan bisa menyebabkan kematian.

American Heart Association merilis pernyataan ilmiah bahwa isolasi sosial dan kesepian dapat meningkatkan risiko sekarat akibat serangan jantung atau stroke.

“Ada bukti kuat yang menghubungkan isolasi sosial dan kesepian dengan peningkatan risiko kesehatan jantung dan otak yang lebih buruk secara umum,” kata Crystal Cene, ketua tim peneliti.

Laporan tersebut menemukan 29 persen peningkatan risiko serangan jantung atau kematian akibat penyakit jantung, dan 32 persen peningkatan risiko stroke di orang yang kesepian. (*)

1.018 Tayangan