PUBLIKKALTIM.COM – Real Madrid dikabarkan berpisah dengan Xabi Alonso di tengah derasnya isu keretakan internal tim.
Kekalahan 2-3 dari Barcelona pada final Piala Super Spanyol, Senin (12/1) dini hari WIB, disebut hanya menjadi pemicu akhir dari masalah yang sudah lama berkembang di ruang ganti Los Blancos.
Sejumlah media Spanyol melaporkan bahwa hubungan antara Alonso dan para pemain utama Real Madrid tidak berjalan harmonis.
Situasi tersebut membuat manajemen klub akhirnya mengambil keputusan tegas untuk mengakhiri kerja sama.
Disiplin Ketat Picu Ketegangan
Sejak awal menangani tim, Xabi Alonso langsung menerapkan standar disiplin tinggi.
Ia menuntut profesionalisme penuh dari para pemain, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Alonso bahkan melarang keluarga pemain hadir di area latihan, kebijakan yang memicu ketidaknyamanan di internal skuad.
Alonso juga memaksimalkan porsi latihan fisik dengan intensitas tinggi.
Metode ini disebut membuat beberapa pemain kelelahan, terutama mereka yang terbiasa dengan pendekatan lebih fleksibel.
Ketidakpuasan itu perlahan berkembang menjadi keluhan terbuka di ruang ganti.
Pemain Bintang Disebut Tak Sejalan
Laporan dari Spanyol menyebut sejumlah pemain inti, termasuk Kylian Mbappe dan Vinicius Junior, kesulitan menyesuaikan diri dengan pendekatan Alonso.
Pilihan taktik dan rotasi pemain menjadi sumber frustrasi.
Vinicius beberapa kali terlihat menunjukkan gestur emosional saat diganti, yang memperkuat dugaan adanya ketegangan antara pemain dan pelatih.
Ego besar para bintang Real Madrid kembali disebut sebagai tantangan utama bagi siapa pun yang menukangi klub ibu kota Spanyol tersebut.
Pernyataan Mourinho Kembali Disorot
Di tengah situasi ini, pernyataan lama Jose Mourinho kembali viral di media sosial.
Mourinho pernah melatih Real Madrid pada periode 2010–2013 dan mempersembahkan gelar LaLiga serta Copa del Rey.
Mourinho pernah mengungkapkan bahwa ia gagal membangun skuad yang benar-benar bersatu di Madrid.
Ia juga mengaku sempat mendapat tawaran kembali melatih Los Blancos pada 2015 dari Presiden Klub Florentino Perez.
“Di Madrid, saya melakukan segalanya kecuali menyatukan ruang ganti,” ujar Mourinho dalam wawancara lama yang kembali beredar.
Ego Pemain Jadi Masalah Lama
Menurut Mourinho, saat Perez menghubunginya, beberapa pemain senior dengan pengaruh besar seharusnya sudah dilepas lebih awal.
Ia menilai langkah tersebut terlambat dilakukan.
Pernyataan itu kini kembali relevan, seiring munculnya isu bahwa ego pemain kembali menjadi penghalang bagi proyek pelatih baru.
Perpisahan dengan Xabi Alonso menegaskan bahwa tantangan terbesar di Real Madrid bukan hanya taktik, tetapi juga mengelola karakter para bintangnya. (*)