Angkat Sarung Samarinda, Andi Harun Tembus 3 Besar Walikota Terbaik Anugerah Kebudayaan PWI 2026

oleh -
oleh
Foto: Wali Kota Samarinda, Andi Harun dalam ajang Presentasi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat pada Kamis 8 Januari 2026 di Hall Dewan Pers Jakarta (Ist)

PUBLIKKALTIM.COM – Sarung Samarinda menjadi pintu masuk Walikota Samarinda, Andi Harun, menembus tiga besar nasional Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Tahun 2026. Melalui narasi budaya yang kuat dan kebijakan berkelanjutan, Andi Harun berhasil membawa warisan lokal Kota Tepian ke panggung nasional.

Capaian ini menempatkan Samarinda sejajar dengan Kota Malang dan Kota Mataram sebagai finalis kategori walikota. PWI Pusat menilai Sarung Samarinda tidak hanya diposisikan sebagai simbol tradisi, tetapi juga sebagai identitas kota yang hidup dan relevan dengan pembangunan masa kini.

Anugerah Kebudayaan PWI Pusat merupakan penghargaan prestisius bagi kepala daerah yang dinilai konsisten membangun ekosistem budaya melalui kebijakan nyata, bukan sekadar agenda seremonial.

PWI Nilai Sarung Samarinda Jadi Identitas Budaya Kota

Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 berjumlah lima orang, terdiri dari unsur internal dan eksternal PWI Pusat, yakni:

  1. Dr. Nungki Kusumastuti (Dosen IKJ, penari, artis film)
  2. Agus Dermawan T. (Pengamat dan penulis seni budaya, penerima Anugerah Kebudayaan RI)
  3. Sudjiwo Tejo (Seniman, budayawan, anggota Tim Pakar PWI Pusat)
  4. Akhmad Munir (Dirut LKBN Antara, Ketua Umum PWI Pusat 2025–2030)
  5. Yusuf Susilo Hartono (Wartawan senior, pelukis, penyair)

Selain itu, Dewan juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 menyoroti keberhasilan Pemkot  Samarinda dalam menjadikan Sarung Samarinda sebagai pusat narasi kebudayaan daerah. Penilaian mencakup keberpihakan kebijakan, kesinambungan program, serta dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat dan pelaku budaya.

Dalam proses seleksi, PWI Pusat menetapkan sepuluh kepala daerah terbaik nasional sebagai finalis. Dari jumlah tersebut, tiga kepala daerah kategori walikota berhasil masuk tiga besar, yakni Walikota Malang Wahyu Hidayat, Walikota Samarinda Andi Harun, dan Walikota Mataram Mohan Roliskana.

Masuknya Walikota Samarinda dalam tiga besar nasional dinilai tidak terlepas dari konsistensi Pemkot Samarinda dalam menjaga eksistensi Sarung Samarinda melalui berbagai kebijakan lintas sektor.

Andi Harun Presentasi Langsung Sarung Samarinda di Jakarta

Pada tahapan berikutnya, Andi Harun dijadwalkan memaparkan langsung inovasi kebudayaan Kota Samarinda dalam sesi presentasi dan pendalaman program yang digelar di Jakarta pada 8–9 Januari 2026. Ia menegaskan kehadirannya tidak dapat diwakilkan karena materi yang disampaikan menyangkut visi besar kebudayaan kota.

“Saya akan presentasi langsung karena ini tidak bisa diwakilkan. Fokus yang kita angkat adalah Sarung Samarinda. Ini bukan hanya cerita masa lalu, tetapi identitas Kota Samarinda di masa kini dan masa depan,” ujar Andi Harun.

Oleh karena itu, dalam presentasinya di hadapan dewan juri, Andi Harun juga menyinggung tantangan besar yang harus Sarung Samarinda hadapi di tengah arus perubahan zaman dan industrialisasi tekstil.

Ia menjelaskan bahwa masifnya produksi tekstil modern, perubahan selera generasi muda, serta tuntutan pasar global membuat Sarung Samarinda berada dalam posisi rentan terhadap komersialisasi yang berlebihan.

“Tekstil diproduksi secara masif, sementara generasi muda terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Di situ Sarung Samarinda berada pada posisi yang rentan dalam arus komersialisasi,” ujar Andi Harun pada Jumat (9/1/2026) di jakarta.

BERITA LAINNYA :  Diskusi Soal Tantangan Pemimpin dan Keterlibatan Pemuda, Andi Harun Hadir Sebagai Narasumber

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tantangan tersebut tidak boleh disesali apalagi dihindari. Sebaliknya, pemerintah daerah harus hadir melalui kebijakan yang tepat untuk meminimalkan kesenjangan antara pelestarian nilai budaya dan tuntutan ekonomi.

“Tantangan ini tidak bisa kita sesali. Justru untuk meminimalkan gap itu, tantangan harus kita hadapi dengan kebijakan yang berpihak, terukur, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Menurut Andi Harun, kebijakan menjadi kunci agar Sarung Samarinda tetap hidup sebagai identitas budaya, sekaligus mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai filosofis dan historisnya di tengah dinamika industri kreatif.

Dorong Sarung Samarinda Jadi Anugerah Pusaka Nasional

Melalui ajang Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026, Andi Harun menargetkan pengakuan nasional bagi Sarung Samarinda. Ia optimistis warisan budaya tersebut dapat ditetapkan sebagai Anugerah Pusaka Nasional.

“Kami optimis karena narasinya sudah kuat. Jika Sarung Samarinda sudah diakui sebagai pusaka nasional, bukan tidak mungkin ke depan statusnya dapat ditingkatkan hingga ke tingkat internasional, termasuk UNESCO,” tambahnya.

Pemkot Samarinda selama ini aktif membina perajin Sarung Samarinda melalui dukungan anggaran, fasilitasi promosi, serta penguatan peran Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Pemerintah kota juga mendorong kolaborasi dengan pelaku UMKM, komunitas kreatif, dan sektor pariwisata.

Sarung Samarinda Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif

Selain sebagai simbol budaya, Sarung Samarinda juga diposisikan sebagai penggerak ekonomi kreatif masyarakat. Pemkot Samarinda mendorong inovasi desain, peningkatan kualitas produksi, serta perluasan pasar agar Sarung Samarinda mampu bersaing secara nasional dan internasional.

Pendekatan ini dinilai sejalan dengan tema Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026, yakni “Pemajuan Kebudayaan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers.” Pemerintah kota melibatkan media massa sebagai mitra strategis dalam mempromosikan Sarung Samarinda kepada publik luas.

Menanti Pengumuman Puncak di HPN 2026

Puncak Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 akan digelar bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten pada 9 Februari 2026. Pada agenda tersebut, PWI Pusat akan mengumumkan penerima penghargaan utama dari masing-masing kategori.

Bagi Pemerintah Kota Samarinda, masuknya Andi Harun dalam tiga besar nasional menjadi pengakuan atas kerja kolektif dalam menjaga dan mengembangkan Sarung Samarinda. Ke depan, Pemkot Samarinda menargetkan Sarung Samarinda tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga simbol kebanggaan dan sumber kesejahteraan masyarakat Kota Tepian.

(Redaksi)