Israel-Iran Terlibat Serangan Militer, Dunia Khawatir Perang Regional

oleh -
oleh
Ilustrasi serangan rudal/ist

PUBLIKKALTIM.COM – Ketegangan antara Israel dan Iran semakin memuncak setelah serangan militer besar-besaran dilancarkan oleh kedua negara pada Sabtu malam (14/6).

Serangan ini memicu kekhawatiran global tentang potensi pecahnya perang regional yang lebih luas, dengan dampak yang bisa meluas ke seluruh dunia, terutama dalam sektor energi.

Israel memperluas serangan dengan menghantam fasilitas energi terbesar Iran, yaitu ladang gas South Pars, yang terletak di provinsi Bushehr.

Akibatnya, produksi gas di fasilitas tersebut sempat terhenti setelah kebakaran besar yang dipicu oleh serangan udara Israel.

Langkah ini menambah ketegangan yang sudah memuncak sejak serangan pertama yang dimulai pada hari Jumat, yang mengakibatkan puluhan korban jiwa.

Sementara itu, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel, dengan rudal dan drone yang diluncurkan ke wilayah utara Israel.

Satu rudal menghantam rumah dua lantai di Haifa, menewaskan seorang perempuan berusia 20-an tahun dan melukai 13 orang lainnya. Pihak militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka berhasil melakukan intersepsi beberapa proyektil Iran.

Presiden AS, Donald Trump, menanggapi ketegangan ini dengan mengeluarkan peringatan keras kepada Iran.

Namun, ia juga membuka peluang bagi penyelesaian diplomatik jika Iran bersedia menurunkan program nuklirnya yang menjadi sumber utama ketegangan ini.

Trump menegaskan, “Kami mendukung Israel dan berharap Iran akan segera memilih jalur diplomasi, bukan eskalasi militer.”

Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi langsung menanggapi pernyataan Trump dengan tegas, mengatakan bahwa pembicaraan dengan Amerika Serikat tidak mungkin dilanjutkan selama serangan Israel terus berlangsung.

Iran juga mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia, sebagai balasan atas serangan Israel, yang semakin memperburuk kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.

Pada hari kedua eskalasi, Iran mengonfirmasi bahwa serangan rudal Israel telah merenggut lebih banyak korban, dengan 60 orang tewas di sebuah apartemen 14 lantai di Teheran, termasuk 29 anak-anak.

Di sisi lain, serangan balasan oleh Iran menewaskan tiga orang di Israel.

BERITA LAINNYA :  Dikonfirmasi Terkait Tes Swab Covid-19 di Pelabuhan, Dinkes Samarinda Akui Masih Lihat Perkembangan Kasus

Langkah agresif Israel dalam menargetkan sektor energi Iran menunjukkan perubahan signifikan dalam strategi militernya.

Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa kebakaran besar yang terjadi akibat serangan Israel di ladang gas South Pars sempat menghentikan sebagian produksi.

Meskipun belum menyentuh sektor minyak dan gas secara langsung, serangan ini berisiko mengganggu ekspor energi dari kawasan tersebut.

Lonjakan harga minyak global hingga 9% pada Jumat (13/6) menunjukkan ketegangan pasar atas potensi gangguan pasokan energi.

Beberapa negara konsumen besar seperti China dan Jepang mulai mengawasi ketat perkembangan situasi ini, khawatir bahwa stabilitas energi dunia bisa terancam.

Beberapa analis geopolitik memperingatkan bahwa jika kedua negara tidak segera mencari solusi diplomatik, konflik ini bisa berkembang menjadi perang terbuka yang melibatkan banyak negara di Timur Tengah.

Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, menyatakan bahwa operasi militer ini “akan berlangsung selama beberapa minggu” dan tidak akan berhenti sampai Iran dianggap tidak lagi menjadi ancaman bagi keamanan Israel.

Namun, kritik keras datang dari dalam negeri Israel. B’Tselem, organisasi HAM terkemuka di Israel, mengecam kebijakan pemerintah yang memilih perang daripada jalur diplomasi.

“Alih-alih mengejar solusi damai, pemerintah memilih jalur militer yang hanya akan mempertaruhkan nyawa warga sipil di seluruh kawasan,” ujar B’Tselem dalam pernyataannya.

Di sisi Iran, Teheran terus menegaskan bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan sipil dan tidak akan tunduk pada tekanan internasional.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) baru-baru ini melaporkan bahwa Iran telah melanggar beberapa kewajiban dalam Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang semakin memperburuk hubungan dengan negara-negara Barat. (*)