“Saya melihat kinerja Pak Menteri luar biasa karena selama dua tahun Presiden Prabowo memimpin, beliau mampu merealisasikan program swasembada yang berdampak pada pemenuhan beras nasional,” ujar Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, Rabu (21/10).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat capaian tersebut.
Berdasarkan angka tetap BPS, produksi beras Indonesia pada 2025 mencapai 34,69 juta ton.
Angka ini meningkat sekitar 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 30,62 juta ton.
Rajiv menilai peningkatan produksi tersebut mencerminkan upaya pemerintah memperkuat kapasitas pertanian nasional.
Ia juga menyoroti konsistensi pelaksanaan program dan kerja nyata di lapangan sebagai faktor penting dalam mendorong hasil positif.
“Beliau yang memaksa jajaran Kementan untuk bekerja keras sehingga apa yang dilakukan sejauh ini menuai hasil,” katanya.
Menurut Rajiv, pemerintah perlu mempertahankan capaian tersebut, terutama ketika perubahan iklim, termasuk fenomena El Nino, berpotensi mengganggu produksi pertanian.
Pemerintah perlu memperkuat produktivitas agar pasokan beras tetap terjaga dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.
Rajiv menegaskan bahwa pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi.
Pemerintah juga perlu memastikan petani memperoleh manfaat ekonomi melalui penyediaan sarana produksi, pembangunan infrastruktur pertanian, peningkatan produktivitas, dan kebijakan yang mendukung keberlanjutan usaha tani.
Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) turut menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan.
BPS mencatat NTP pada September 2026 mencapai 131,11 atau meningkat 1,49 persen.
Kenaikan ini mengindikasikan perbaikan daya beli petani, meskipun pemerintah tetap perlu memperhatikan indikator kesejahteraan lainnya.
Rajiv berharap pemerintah terus memperkuat infrastruktur pertanian, menjamin ketersediaan sarana produksi, dan meningkatkan pendampingan kepada petani.
Langkah tersebut penting untuk mempertahankan peningkatan produksi sekaligus memperluas manfaat pembangunan pertanian.
Ia juga mendorong seluruh pemangku kepentingan menjaga konsistensi program agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri dan meningkatkan kesejahteraan petani.
“Upaya mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan diharapkan semakin kuat sekaligus memberikan manfaat nyata bagi petani dan masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (*)