PUBLIKKALTIM.COM – Pemerintah terus mempercepat pengembangan subsektor perkebunan melalui program hilirisasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Salah satu komoditas yang menjadi fokus utama adalah kopi, dengan pengembangan yang saat ini dipusatkan di sejumlah daerah sentra produksi, termasuk Aceh.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan petani kopi memiliki peluang memperoleh pendapatan yang lebih tinggi apabila mengelola kebun secara optimal.
Menurutnya, satu keluarga yang mengelola dua hektare kebun kopi berpotensi meraih penghasilan antara Rp20 juta hingga Rp30 juta setiap bulan.
Amran menyampaikan potensi tersebut saat meninjau kawasan Rimba Raya KM 60, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa (14/7).
Ia menilai peningkatan kesejahteraan petani menjadi ukuran utama keberhasilan pembangunan sektor pertanian.
“Kalau dua hektare saja satu keluarga, penghasilannya itu bisa Rp20 sampai Rp30 juta. Nah, itu di atas gaji menteri. Gaji menteri Rp19 juta per bulan,” ujar Amran.
Ia menegaskan pembangunan pertanian tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan petani menikmati hasil yang lebih baik melalui peningkatan produktivitas dan nilai tambah komoditas.
Program Pengembangan Kopi Berlanjut
Kementerian Pertanian mencatat telah menyalurkan bantuan pengembangan kopi seluas 17 ribu hektare dengan sekitar 17 juta batang bibit kopi di wilayah Aceh.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat produksi kopi nasional sekaligus meningkatkan daya saing komoditas di pasar internasional.
Amran menyebut laporan pemerintah daerah menunjukkan program penanaman kopi telah memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Berdasarkan laporan tersebut, pengembangan kopi mampu meningkatkan pendapatan pekebun di Aceh hingga sekitar Rp4 triliun per tahun.
Ia memastikan pemerintah akan melanjutkan program tersebut pada tahun depan.
Namun, keberlanjutan bantuan akan bergantung pada keberhasilan petani dalam merawat tanaman yang telah dibagikan agar menghasilkan produktivitas yang optimal.
Menurut Amran, kualitas bibit unggul serta pendampingan dari penyuluh pertanian menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan pengembangan perkebunan kopi di Aceh.
Ekspor dan Harga Kopi Terus Didorong
Selain meningkatkan produksi, pemerintah juga menargetkan kenaikan nilai ekspor kopi melalui program hilirisasi.
Saat ini nilai ekspor kopi Indonesia disebut telah mencapai sekitar Rp40 triliun dan diharapkan meningkat menjadi Rp100 triliun, bahkan hingga Rp200 triliun dalam beberapa tahun mendatang.
Amran juga mengungkapkan harga Kopi Gayo di tingkat petani mengalami kenaikan signifikan.
Berdasarkan laporan yang diterimanya, harga kopi kini mencapai sekitar Rp110 ribu per kilogram, meningkat dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran Rp50 ribu per kilogram.
Ia meminta seluruh pihak menjaga stabilitas harga agar petani tetap memperoleh keuntungan yang layak.
Pemerintah juga menyiapkan kebijakan penataan ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar global.
Selain kopi, pemerintah memasukkan tebu, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete sebagai komoditas prioritas dalam program hilirisasi perkebunan.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp9,5 triliun untuk mengembangkan sekitar 870 ribu hektare kebun rakyat sepanjang 2025–2027 guna meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus mendongkrak kesejahteraan para pekebun. (*)