PUBLIKKALTIM.COM – Serangan udara yang dilancarkan militer Myanmar menghantam sebuah vihara di Desa Lin Ta Lu, wilayah Sagaing, Jumat (10/7/2025) dini hari.
Akibatnya, setidaknya 23 warga sipil tewas, termasuk empat anak-anak.
Informasi ini disampaikan oleh Kepala Administrasi Rakyat Distrik Sagaing, Hlaing Bwa, yang merupakan bagian dari kelompok pro-demokrasi di wilayah tersebut.
“Vihara itu menampung sekitar 200 warga yang mengungsi dari pertempuran. Serangan ini terjadi saat mereka sedang tidur,” ujar Hlaing Bwa, dikutip dari AFP dan Reuters, Minggu (13/7/2025).
Serangan terjadi sekitar pukul 01.00 dini hari waktu setempat.
Saksi mata melaporkan suara ledakan besar terdengar saat pesawat militer menjatuhkan bom ke area vihara.
Belum ada data resmi terkait jumlah korban luka.
Hingga berita ini ditulis, juru bicara junta militer Myanmar belum memberikan komentar terkait serangan tersebut.
Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), pemerintahan sipil paralel yang melacak aktivitas militer, juga belum mengeluarkan pernyataan resmi.
Konflik Berkepanjangan
Myanmar terus dilanda konflik bersenjata sejak kudeta militer pada Februari 2021 yang menggulingkan pemerintahan sipil terpilih pimpinan Aung San Suu Kyi.
Kudeta itu memicu perlawanan luas, termasuk dari kelompok milisi sipil di berbagai wilayah.
Sagaing menjadi salah satu basis utama perlawanan terhadap junta militer.
Serangan terhadap fasilitas sipil, termasuk rumah ibadah, sering terjadi di wilayah ini.
Organisasi hak asasi manusia internasional telah berulang kali mengecam aksi militer Myanmar yang dinilai melanggar hukum humaniter, namun kekerasan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. (*)