Krisis Kemanusiaan Makin Parah, Rumah Sakit di Gaza Kewalahan Tangani Korban Serangan Militer Israel

oleh -
oleh
Ilustrasi warga Jalur Gaza/Foto: www.hrw.org

PUBLIKKALTIM.COM – Sejumlah rumah sakit yang masih beroperasi di Gaza kewalahan menampung warga Palestina yang terluka dan sakit akibat intensitas serangan militer Israel.

Kondisi ini diperparah oleh pengungsian massal akibat bombardir hebat di utara Gaza.

Dilansir dari Al Jazeera, beberapa rumah sakit di Gaza tengah, seperti Rumah Sakit Al-Aqsa, kini menjadi tumpuan utama pengungsi dan pasien yang membutuhkan perawatan medis mendesak.

Namun, fasilitas tersebut hampir mencapai titik kehancuran karena lonjakan pasien yang sangat besar.

Dr. Khalil Digran dari Rumah Sakit Al-Aqsa menyebutkan bahwa serangan pasukan Israel juga menargetkan Rumah Sakit Anak al-Rantisi, satu-satunya fasilitas khusus anak-anak di wilayah tersebut.

Selain itu, hanya ada dua rumah sakit utama di Kota Gaza dan utara yang masih beroperasi, yaitu Rumah Sakit al-Shifa dan al-Ahli, namun keduanya sudah sangat kewalahan.

“Serangan Israel di Gaza tengah dan selatan menambah tekanan besar terhadap fasilitas kesehatan, yang berpotensi menghentikan layanan sepenuhnya,” ujar Dr. Digran.

Rumah Sakit Lapangan Yordania di Kota Gaza terpaksa mengungsikan seluruh staf dan 107 pasien ke Gaza tengah akibat serangan intens.

Mohammad Khoudary, seorang pengungsi Palestina, menceritakan bagaimana ayahnya yang sakit menjadi semakin lemah akibat pengungsian dan kurangnya perawatan.

BERITA LAINNYA :  Setelah Dua Tahun Sunyi, Bethlehem Kembali Gelar Perayaan Natal Publik di Tengah Pendudukan

“Ini sangat memengaruhi kesehatan ayah saya, ia mengalami dehidrasi. Saya berharap bisa segera dipindahkan ke Rumah Sakit Al-Aqsa,” kata Mohammad kepada Al Jazeera.

Dokter dan tenaga medis memperingatkan bahwa dengan semakin banyaknya pengungsi yang datang, fasilitas kesehatan di Gaza tengah dan selatan bisa segera runtuh total.

Pasien yang awalnya satu orang satu tempat tidur kini harus berbagi tempat tidur karena keterbatasan ruang dan sumber daya medis.

Seorang pengungsi Palestina menambahkan, “Situasi di rumah sakit makin memburuk. Alih-alih satu pasien dalam satu tempat tidur, kini dua pasien harus berbagi tempat tidur karena ruang yang sangat terbatas.”

Situasi kemanusiaan di Gaza tengah dan selatan semakin kritis, dan para tenaga medis mendesak dunia internasional untuk segera memberikan bantuan guna mencegah krisis yang lebih parah. (*)