Kurikulum Terbaru Tak Ada Lagi Jurusan IPA-IPS di SMA, Berikut Penjelasan Nadiem Makarim 

oleh -
oleh
Mendikbud Nadiem Makarim dalam acara temu media di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Senin (23/12/2019). (DOK. KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO)/kompas.com
Nadiem Makarim/kompas.com

PUBLIKKALTIM.COM – Pemerintah melalui Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim terus berusaha untuk memberikan pendidikan terbaik bagi para siswa.

Salah satu upayanya adalah pembaruan kurikulum yang menyesuaikan perkembangan zaman.

Sebagaimana diketahui, pada Jumat (11/2), Nadiem Makarim meluncurkan Kurikulum Merdeka.

Nadiem mengklaim kurikulum tersebut bisa menciptakan kegiatan belajar menjadi lebih fleksibel.

Beberapa opsi ditawarkan Nadiem dalam kurikulum ini.

Opsi pertama yang ditawarkan Nadiem yakni sekolah akan diberikan kebebasan dalam menentukan kurikulum sesuai dengan kesiapannya masing-masing.

Nadiem mengatakan sekolah diperbolehkan tetap menggunakan kurikulum 2013 bila belum merasa nyaman melakukan perubahan.

“Tidak dipaksakan sama sekali, tidak perlu khawatir lagi bahwa sekolah-sekolah ganti menteri ganti kurikulum,” kata Nadiem.

Kemudian opsi yang kedua yaitu Nadiem mengimbau sekolah yang ingin melakukan transformasi namun belum siap dengan perubahan besar, diperkenankan memilih kurikulum darurat.

Sedangkan untuk opsi terakhir, sekolah yang menginginkan dan siap dengan perubahan, diperbolehkan menggunakan kurikulum merdeka.

“Kurikulum ini adalah opsi, pilihan. Karena kita sudah sangat sukses dengan kurikulum darurat, kita menggunakan filsafat yang sama, ini pilihan bagi sekolah mengikuti pilihannya masing-masing,” ujar Nadiem dikutip dari cnnindonesia.com.

Di sisi lain, Nadiem menilai kurikulum 2013 masih memiliki sejumlah kelemahan dalam penerapannya selama ini.

Melalui Kurikulum Merdeka, kegiatan belajar mengajar dapat lebih fleksibel bagi satuan pendidikan.

“Pada saat ini kurikulum yang digunakan dalam skala nasional ada beberapa kelemahan yang sudah kita identifikasi. Sebenarnya ini bukan satu hal yang baru,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nadiem mengklaim salah satu keunggulan Kurikulum Merdeka ini adala tidak adanya program peminatan bagi siswa pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).

BERITA LAINNYA :  Ciptakan Generasi Siap Bersaing di Dunia Global, Dispora Kaltim Gandeng Unmul Rancang Grand Design Kepemudaan

Menurutnya, siswa SMA kini bisa memilih mata pelajaran sesuai dengan minat dan aspirasinya di dua tahun terakhir sekolah.

“Dia tidak terkotak kotak kepada misalnya IPA atau IPS saja. Mereka bisa memilih sebagian IPA, materi pelajaran IPA, sebagian IPS,” kata Nadiem.

Kebebasan memilih, kata dia  tidak hanya diberikan kepada siswa saja, melainkan juga kepada guru serta sekolah.

Dia menjelaskan, guru akan diberikan hak untuk maju atau mundur di dalam suatu fase kurikulum dengan menyesuaikan tahap pencapaian dan perkembangan murid-murid.

“Karena guru itu terpaksa untuk terus maju tanpa memikirkan siapa yang ketinggalan. Jadi guru ini bisa memilih kalau misalnya guru itu merasa dia mau lebih cepat itu bisa, kalau guru itu merasa dia mau pelan-pelan sedikit untuk memastikan tidak ada [murid] yang ketinggalan juga bisa,” imbuhnya.

Tak hanya itu, keunggulan lain kurikulum merdeka ini sekolah bisa memilih untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan karakteristik sekolah masing-masing.

Kebebasan memilih ini membuktikan bahwa Kurikulum Merdeka tidak akan membelenggu otonomi sekolah.

“Jadinya level otonomi, level kemerdekaan, bagi sekolah, bagi guru, dan bagi peserta didik itu sangat tinggi. Ini bukan kurikulum yang ingin membelenggu sekolah-sekolah. Ini adalah kurikulum yang paling merdeka yang memberikan kemerdekaan kembali kepada sekolah, hak-hak memilih bagi murid, guru, dan sekolah,” pungkasnya. (*)