Lecehkan Turis, Gepeng Penjual Tisu di Pantai Kuta Diamankan Petugas

oleh -
oleh
Ilustrasi Pantai Kuta Bali/liputan6.com

PUBLIKKALTIM.COM – Satpol-PP di Bali mengamankan 50 orang gelandangan dan pengemis (gepeng) dengan modus sebagai penjual tisu di Pantai Kuta, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

50 gepeng tersebut diamankan buntut adanya video turis asing yang merasa dilecehkan.

Video turis asing yang mengeluh orang orang sekitarnya mengganggunya viral di media sosial.

Merespon video itu, Satpol-PP langsung bergerak melakukan operasi di seputaran Pantai Kuta.

Sebanyak 50 orang gepeng itu diamankan dari hasil operasi selama tiga hari berturut mulai Kamis (21/4/2022) hingga Sabtu (23/4/2022).

Pada Kamis, tim mengamankan 10 orang gepeng, Jumat sebanyak 28 gepeng dan Sabtu sebanyak 12 gepeng.

“Kemarin itu dapat 12, sebelumnya dapat 28, sebelumnya dapat 10. Artinya 50 total,” kata Kepala Satpol-PP Kabupaten Badung I Gusti Agung Ketut Suryanegara dikutip dari detikBali, Minggu (24/4/2022).

Suryanegara menjelaskan operasi ini terus dilakukan hingga seminggu ke depan.

Mendekati Lebaran, akan ditempatkan berbagai petugas di pos-pos pariwisata, termasuk Pantai Kuta.

Ia juga berharap masyarakat diminta tak hanya menyampaikan keluhan semata terkait adanya gepeng modus jualan tisu tersebut.

Namun ia meminta masyarakat turut mendukung dan terlibat dalam penanganannya.

BERITA LAINNYA :  Siap-siap, PPKM Mikro Mulai Besok Bakal Diterapkan di Kota Balikpapan 

“Yang pasti lingkungan masyarakat sangat mendukung dan mau terlibat, itu yang kami harapkan. Artinya masyarakat jangan hanya menyampaikan keluhan saja. Ayo dong ikut bersama, karena ini permasalahan sosial ini bukan hanya baru kali ini, supaya masyarakat itu semua ikut peduli,” pungkasnya.

Sebelumnya, beredar sebuah video di media sosial yang memperlihatkan bule perempuan yang belum diketahui identitasnya mengeluh, Jumat (22/4/2022).

Ia mengaku orang orang sekitarnya mengganggunya saat berjalan di Pantai Kuta, Bali.

Ia menyebut dirinya telah dilecehkan saat berjalan di pantai.

Hal itu diduga terkait dengan keberadaan pedagang pantai yang memaksanya membeli.

Perempuan berkacamata itu menyebut Kuta adalah yang terburuk, dan ia berjanji bahwa ia tak akan pernah lagi kembali ke Kuta, bahkan ke Bali. (*)