Staf Unmul Kunjungi Kediaman Mahasiswa yang Bunuh Diri dan Cerita Soal Sosok Korban di Kampus

oleh -
oleh
Dekan Fisipol Unmul dan para staf saat melayat ke makam almarhum BH, Senin (20/7/2020)/IST

PUBLIKKALTIM.COM, SAMARINDA – Beberapa waktu lalu terjadi penemuan mayat Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Mulawarman (Unmul) program studi  Hubungan Internasional, berinisial BH yang  tewas bunuh diri di rumah kontrakan milik kakak angkatnya di Jl. Pemuda Samarinda.

Kejadian pada Sabtu (18/7/2020) lalu.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Mulawarman beserta staf kampus kemudian mengunjungi kediaman almarhum di PT. Itci Arsari Group, Kab. Penajam Paser Utara, pada Sabtu (18/7/20).

Menurut keterangan dari dekan Fisipol Universitas Mulawarman, Muhammad Noor, mengenang sosok korban, sebelum meninggal korban diketahui juga memiliki rekam medis penyakit jantung yang diderita BH.

Sehingga, ketua program studi memutuskan untuk menggantikan dosen pembimbingnya.

“Yang bersangkutan meninggal karena sakit jantung. Karena yang bersangkutan jarang datang maka ibu Eni selaku ketua program studi memutuskan untuk mengganti dosen pembimbing,” ujar Muhammad Noor menceritakan rekam jejak proses pendidikan korban.

Tak hanya itu, pihak kampus sempat mengganti dua kali dosen pembimbing.

Kemudian pada tanggal 20 Juni 2020 almarhum menjalani seminar proposal. Seusai seminar proposal, korban ditemukan tidak bernyawa di kontrakan milik kakak angkatnya.

Dikonfirmasi terpisah, kakak kandung korban, Hendi Abu Hasan, mengatakan pihak keluarga menyambut baik kunjungan pihak kampus ke kediamannya.

BERITA LAINNYA :  Isran Noor Laksanakan Salat Iduladha di Masjid Darussalam, Minta Masyarakat Tetap Taat Terhadap Protokol Kesehatan

Bahkan pihak keluarga tidak memiliki dendam terhadap kasus yang menimpa adiknya tersebut.

Justru dari pertemuan pihak keluarga berharap kasus ini menjadi kasus terakhir yang terjadi di dalam dunia pendidikan.

“Cukuplah ini menjadi sebagai bukti pembelajaran dan bukti pendidikan masih lemah. Kita tidak bisa mentang-mentang sebagai dosen kita semau-maunya saja. Kita tahu dosen sibuk, tapi kita kembali lagi mereka juga dibayar. Janganlah ketika mereka ditanya tak ada solusi, justru mereka carikan solusi,” kata Hendi Abu Hasan, pada Minggu (19/7/20).

Selain itu, sang adik di pandangannya tidak tertutup.

Justru dari pengamatannya ini sang adik justru memiliki sifat ceria. Hanya saja dari pengamatannya selama ini sang adik seringkali merasa disulitkan ketika mengurus skripsi.

Sebab selama hidupnya, sang adik seringkali mengeluh kesulitan bertemu dengan dosen pembimbing.

Hal tersebut semakin membuatnya depresi, karena tahun 2020 ini merupakan tahun terakhir angkatan 2013. (*)

1.151 Tayangan