Tanggapi Postingan Rektor ITK, Mahfud MD: Tidaklah Menunjukkan Sikap yang Bijaksana

oleh -84 views
oleh
Menkopolhukam Mohammad Mahfud MD/com.tr

PUBLIKKALTIM.COM – Postingan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Profesor Budi Santosa Purwokartiko yang dinilai rasis direspon oleh Menko Polhukam Mahfud MD.

Mahfud menilai, pernyataan yang disampaikan oleh Budi tidaklah menunjukkan sikap yang bijaksana.

“Memuji-muji mahasiswa/mahasiswi hebat hanya karena mereka tidak memakai kata2 agamis, ‘Insya Allah, qadarallah, syiar” sebagaimana ditulis oleh Rektor ITK itu juga tidak bijaksana,” tulis Mahfud dalam akun Twitter pribadinya, Minggu (1/5/2022).

Bagi Mahfud, tiga kata di atas yang disinggung oleh Budi merupakan sebuah bentuk kebaikan bagi seorang beriman kepada Penciptanya.

Hal tersebut berlaku pula bagi pemeluk agama lain.

“Itu adalah kata-kata yang baik bagi orang beriman, sama dengan ucapan Puji Tuhan, Haleluya, Kersaning Allah, dan lain-lain,” terangnya.

Menurut Mahfud, pada tahun periode 1990-an banyak profesor yang tadinya tidak berjilbab menjadi berjilbab.

Mereka pun profesor di universitas kenamaan di Indonesia, seperti UI, ITB, UGM, dan IPB.

Dirut Pertamina Nicke Widyawati dan Kepala Badan POM Penny Kusumastuti Lukito juga berjilbab.

“Mereka pandai-pandai tapi toleran, meramu keislaman dan keindonesiaan dalam nasionalisme yang ramah,” katanya.

Mahfud menjelaskan, pakaian yang Islami itu adalah niat menutup aurat dan sopan.

BERITA LAINNYA :  Penerimaan  PPDB 2022 Akan Dimulai, Komisi IV DPRD Kaltim Ingatkan Tiga Masalah Krusial 

Kata Mahfud, pilihannya pun bisa beragam karena model pakaian adalah produk budaya.

“Tak melulu harus menggunakan cadar atau gamis. Maka itu menuduh orang pakai penutup kepala seperti jilbab ala Indonesia, Melayu, Jawa, dan lain-lain sbg manusia gurun adalah salah besar,” pungkasnya.

Sebelumnya, viral di media sosial postingan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Prof Ir Budi Santosa Purwokartiko, PhD.

Postingannya di akun Facebook pribadinya itu pada Rabu (27/4/2022) dianggap rasis.

Dalam postingannya itu, Rektor ITK membahas soal wawancaranya terhadap mahasiswa yang ikut mobilitas ke luar negeri.

Anggapan rasis itu muncul setelah ia menuliskan “Jadi 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satupun yang menutup kepala ala manusia gurun”.

Berikut ini postingan yang bersangkutan yang didapatkan dari media sosial.

 

1.011 Tayangan