PUBLIKKALTIM.COM – Setelah meningkatnya konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang turut melibatkan serangan militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (7/7) mengumumkan bahwa Washington dan Teheran telah sepakat untuk menggelar pembicaraan diplomatik.
Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, Trump mengatakan bahwa Iran telah menyatakan kesediaan untuk berdialog.
“Kami telah menjadwalkan pembicaraan dengan Iran, dan mereka ingin berbicara,” ujar Trump di hadapan awak media.
“Jika kami bisa menyusun sesuatu dalam bentuk kesepakatan tertulis, itu akan sangat baik. Tapi mari kita lihat bagaimana hasilnya.”
Menurut laporan Anadolu Agency, Selasa (8/7), Utusan Timur Tengah Gedung Putih, Steve Witkoff, mengonfirmasi bahwa pertemuan antara delegasi AS dan Iran kemungkinan besar akan berlangsung dalam satu pekan ke depan atau bahkan lebih cepat.
Meski tidak merinci isi agenda, Trump menyampaikan bahwa opsi militer bukanlah prioritas dalam menghadapi Iran saat ini.
“Saya harap kami tidak perlu melakukan itu. Saya tidak bisa membayangkan ingin melakukan itu. Dan saya rasa mereka juga tidak ingin hal itu terjadi,” ucapnya.
Latar Belakang Ketegangan
Ketegangan meningkat sejak 13 Juni lalu, ketika Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah situs militer, nuklir, dan infrastruktur sipil di Iran.
Dua hari setelahnya, dialog putaran keenam antara AS dan Iran yang dijadwalkan pada 15 Juni dibatalkan.
Sebagai respons, militer AS pada 22 Juni melancarkan serangan udara yang melibatkan 14 bom bunker-buster GBU-57 dari pesawat B-2 ke situs nuklir Fordow dan Natanz, serta meluncurkan puluhan rudal jelajah Tomahawk ke fasilitas nuklir di Isfahan.
Konflik bersenjata antara Iran dan Israel berlangsung selama 12 hari, hingga akhirnya gencatan senjata yang dimediasi AS diberlakukan mulai 24 Juni.
Trump Buka Peluang Cabut Sanksi terhadap Iran dan Suriah
Dalam pernyataannya, Trump juga mengisyaratkan kemungkinan pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran jika dialog berjalan positif.
“Saya ingin bisa mencabut sanksi itu, di saat yang tepat, dan memberi mereka kesempatan untuk membangun kembali secara damai,” ujarnya.
Trump menambahkan bahwa Iran saat ini adalah negara yang “sangat berbeda dibanding dua pekan lalu,” seraya mengungkap optimisme terhadap arah dialog mendatang.
Selain itu, Trump mengumumkan bahwa AS telah mencabut sejumlah sanksi terhadap Suriah, tanpa menyebutkan secara rinci jenis sanksi yang dicabut. Langkah ini diambil atas permintaan dari sejumlah negara Timur Tengah yang menginginkan stabilitas kawasan pasca-konflik.
“Kami mencabut sanksi terhadap Suriah karena kami ingin memberi mereka kesempatan,” pungkasnya. (*)