PUBLIKKALTIM.COM – Sebanyak 123 warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan militer Israel di Kota Gaza dalam waktu 24 jam terakhir.
Jumlah ini menjadi yang tertinggi dalam satu hari sepanjang pekan ini, menurut laporan Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip Reuters, Kamis (14/8).
Serangan udara dan darat yang dilancarkan pasukan Israel menghantam wilayah timur Kota Gaza, khususnya di lingkungan padat penduduk Zeitoun dan Shejaia.
Rumah-rumah hancur, dan banyak warga yang dilaporkan masih tertimbun reruntuhan.
“Sedikitnya 12 orang tewas dalam serangan udara di sebuah rumah di Zeitoun,” ungkap Rumah Sakit Al-Ahli dalam pernyataan tertulis.
Selain korban dari serangan langsung, Kementerian Kesehatan Gaza juga melaporkan delapan warga, termasuk tiga anak-anak, meninggal dunia akibat kelaparan dan kekurangan gizi.
Hal ini menambah daftar korban menjadi total 235 jiwa sejak perang kembali pecah, dengan 106 di antaranya adalah anak-anak.
Di Gaza selatan, tank-tank Israel dilaporkan menghancurkan sejumlah rumah di Khan Younis.
Di pusat Kota Gaza, sembilan warga tewas dalam dua insiden terpisah saat sedang mencari bantuan kemanusiaan.
Militer Israel belum memberikan pernyataan terkait insiden ini.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa serangan ini merupakan bagian dari upaya merebut kembali kendali penuh atas Gaza.
“Mereka tidak akan diusir, mereka akan diizinkan keluar,” ujar Netanyahu dalam wawancara dengan saluran TV Israel, i24NEWS.
“Semua yang mengaku peduli terhadap Palestina dan ingin membantu, seharusnya membuka pintu mereka. Jangan hanya menguliahi kami,” tambahnya.
Pejabat Israel menyatakan bahwa operasi penuh di Gaza kemungkinan masih berlangsung beberapa minggu ke depan, meskipun pembicaraan mengenai gencatan senjata terus diupayakan.
Sementara itu, kelompok Hamas dikabarkan tengah melanjutkan pembicaraan dengan mediator Mesir guna mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Namun hingga kini, belum ada kemajuan signifikan dalam negosiasi.
Di tengah pertempuran yang terus berlangsung, krisis kemanusiaan di Gaza kian memburuk.
Blokade bantuan, hancurnya infrastruktur medis, serta minimnya akses terhadap makanan dan air bersih membuat kondisi warga sipil sangat memprihatinkan. (*)