500 Ribu Warga Gaza Terancam Kelaparan, Arab Saudi Desak Tindakan Internasional

oleh -
oleh
Ilustrasi warga Jalur Gaza/Foto: www.hrw.org

PUBLIKKALTIM.COM – Kementerian Luar Negeri Saudi mengecam keras situasi kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza.

Kementerian Luar Negeri Saudi menyebut krisis tersebut sebagai kejahatan genosida oleh pasukan pendudukan Israel.

Deklarasi kelaparan yang disampaikan oleh panel Integrated Food Security Phase Classification (IPC) pada Sabtu (23/8) merupakan yang pertama kalinya diumumkan PBB di kawasan Timur Tengah.

Laporan IPC menyebutkan bahwa per 15 Agustus 2025, kelaparan ekstrem (IPC Fase 5) telah terkonfirmasi di Kota Gaza , wilayah yang mencakup sekitar 20% dari Jalur Gaza.

Menurut para pakar PBB, sekitar 500.000 warga Gaza saat ini menghadapi kondisi kelaparan parah, sebagai dampak dari hancurnya infrastruktur dan akses pangan akibat konflik berkepanjangan.

Kepala bantuan kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, menyatakan bahwa bencana kelaparan tersebut sebenarnya dapat dicegah.

“Kebutuhan pangan tidak dapat mencapai Gaza karena hambatan sistematis yang diberlakukan oleh Israel,” ujarnya.

Dalam pernyataannya, Kerajaan Arab Saudi menyebutkan bahwa situasi ini mencerminkan kegagalan komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB, dalam mencegah kejahatan berulang di wilayah pendudukan.

“Bencana kemanusiaan yang terjadi adalah akibat langsung dari ketiadaan mekanisme akuntabilitas terhadap pelanggaran yang dilakukan Israel,” kata Kementerian Luar Negeri Saudi.

BERITA LAINNYA :  Akhiri Tugas Sebagai Kepala Kejati Kaltim, Wali Kota Andi Harun Apresiasi Kepemimpinan Hari Setiyono

Arab Saudi juga memperingatkan bahwa jika tidak ada tindakan tegas dan segera untuk menghentikan perang serta kelaparan di Gaza, maka noda ini akan selamanya tercatat dalam sejarah komunitas internasional.”

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Israel segera memberikan respons.

Dalam pernyataannya, Israel membantah keberadaan bencana kelaparan di Gaza, dan menyebut laporan IPC sebagai “propaganda” yang didasarkan pada “kebohongan Hamas yang dicuci oleh organisasi berkepentingan.”

Israel menyatakan bahwa mereka telah berupaya menyalurkan bantuan, namun menyalahkan Hamas atas terhambatnya distribusi logistik kemanusiaan.

Selama beberapa bulan terakhir, berbagai lembaga PBB telah memperingatkan tentang memburuknya kondisi kehidupan di Gaza, menyusul serangan militer, blokade, dan runtuhnya sistem distribusi kebutuhan pokok seperti makanan, air bersih, dan obat-obatan. (*)

1.039 Tayangan