PUBLIKKALTIM.COM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan erupsi Gunung Anak Krakatau kembali terjadi pukul 10.25 WIB, Jumat (4/2/2022).
Semburan abu vulkanik mencapai 800 meter dari puncak atau 957 meter di atas permukaan laut.
Kepala BMKG, Rahmat Triyono juga mengeluarkan peringatan imbas aktivitas Gunung Anak Krakatau tersebut.
BMKG meminta warga agar mewaspadai potensi gelombang tinggi di perairan Selat Sunda.
“Imbauan gelombang tinggi terbatas di Selat Sunda. Sejauh ini belum ada potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau,” tutur Rahmat dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (4/2).
Rahmat meminta warga yang berada di sekitar Selat Sunda menghindari daerah pantai karena potensi gelombang tinggi.
Meskipun demikian, Rahmat tak menyebutkan tinggi gelombang yang disebabkan oleh gunung api itu.
Ia menjelaskan, BMKG saat ini belum bisa memprediksi ketinggian gelombang akibat aktivitas gunung api.
Hal itu berbeda dengan prediksi ketinggian gelombang jika terjadi gempa atau perubahan cuaca.
“Kalau prediksi tsunami, gelombang tinggi, itu ada modellingnya dari BMKG. Tapi kalau gunung api belum ada modelnya, jadi masih sebatas imbauan-imbauan saja,” jelasnya.
Kendati demikian, Rahmat mengaku masih mewaspadai potensi gelombang tinggi dan tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pihaknya juga berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terkait status Gunung Anak Krakatau.
“Kami masih terus berkoordinasi dengan PVMBG terkait status Krakatau ya, kan sekarang statusnya waspada, jadi kami pantau terus,” pungkasnya (*)