PUBLIKKALTIM.COM – Ketegangan geopolitik yang menyelimuti kawasan Timur Tengah saat ini mengubah prioritas perjalanan turis global. Banyak warga Australia kini mengurungkan niat berlibur ke Eropa dan memilih destinasi yang lebih aman di kawasan The Nusa Dua, Bali. Fenomena ini memberikan dampak positif bagi angka statistik pariwisata nasional di tengah ketidakpastian dunia.
General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, mengungkapkan bahwa pergeseran tren ini mulai terasa sejak awal tahun 2026. Menurutnya, posisi Australia sebagai pasar utama pariwisata di Bali semakin kokoh karena kedekatan geografis dan jaminan keamanan.
“Kalau kita melihat selama tiga bulan ini, masih tertinggi oleh Australia. Jadi kami sudah prediksi, karena banyak wisatawan Australia sebetulnya yang cancel ke Eropa. Jadi itu juga bisa menambah kunjungan ke Indonesia khususnya,” ujar Made Agus Dwiatmika pada Jumat (17/4/2026).
Pertumbuhan Angka Kunjungan Maret 2026
Berdasarkan laporan terbaru, kawasan The Nusa Dua mencatatkan pertumbuhan jumlah turis yang cukup signifikan pada Maret 2026. Angka kunjungan terpantau naik sebesar 4 hingga 5 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025. Made Agus Dwiatmika menilai pencapaian ini sebagai bukti resiliensi pariwisata Bali terhadap isu global.
“Kalau dibandingkan Maret tahun 2025 sama Maret 2026, kita ada kenaikan kurang lebih 4-5 persen. Jadi itu sebetulnya kondisi yang cukup bagus,” ucapnya saat menjelaskan data pertumbuhan tersebut.
Magnet Iklim Tropis saat Musim Dingin
Selain faktor keamanan, perbedaan musim menjadi alasan kuat bagi warga Australia untuk terbang ke Indonesia. Saat musim dingin melanda Australia, atmosfer tropis di wilayah katulistiwa menjadi daya tarik utama yang sulit mereka temukan di negara sendiri.
Meskipun kota besar seperti Bangkok menjadi kompetitor kuat, keunikan suasana Bali tetap menjadikannya pilihan utama. Pihak pengelola kawasan mencatat bahwa kehangatan iklim menjadi faktor kunci yang menjaga loyalitas wisatawan Australia hingga saat ini.
“Australia itu biasanya, dia kalau di daerahnya mulai musim dingin, dia pasti akan ke Indonesia. Kemudian orang Australia itu sebenarnya di tempatnya banyak pilihan, tapi suasana katulistiwa itu memang tidak ditemukan di negara dia. Jadi salah satu pilihannya adalah ke Bali selain Bangkok,” jelasnya.
Tantangan Operasional dan Harga Avtur Dunia
Meskipun saat ini wisatawan Australia, Rusia, dan China mendominasi kunjungan, pengelola The Nusa Dua tetap memberikan catatan penting bagi para pelaku industri. Dinamika harga avtur dunia akibat konflik internasional tetap membayangi industri penerbangan dan dapat memicu kenaikan harga tiket pesawat ke depannya.
“Jadi geopolitiknya masih berlangsung, kemudian diikuti oleh naiknya harga avtur, karena maskapai pun cukup merasa tertekan terkait dengan harga yang tinggi. Kita mesti mengantisipasi itu, tetapi kita harus optimis,” tutur Made Agus Dwiatmika sebagai penutup.
(Redaksi)