PUBLIKKALTIM.COM – Delapan negara NATO asal Eropa, yakni Jerman, Prancis, Swedia, Norwegia, Finlandia, Belanda, Inggris, dan Denmark, mengerahkan pasukan militer ke Greenland.
Langkah ini dilakukan untuk pengintaian dan latihan militer di ibu kota Nuuk di tengah wacana Amerika Serikat (AS) yang berencana mengakuisisi pulau tersebut.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengonfirmasi melalui unggahan resmi di X bahwa pasukan Prancis pertama telah berangkat menuju Greenland.
Langkah ini menjadi bagian dari Operation Arctic Endurance, latihan bersama yang bertujuan meningkatkan keamanan Arktik dan menegaskan kedaulatan Denmark atas wilayah itu.
AS Fokus pada Keamanan Greenland
Duta Besar AS untuk NATO, Matthew Whitaker, membela fokus Washington terhadap Greenland dalam wawancara dengan Fox News.
Whitaker menilai Eropa bereaksi berlebihan terhadap langkah AS di wilayah Arktik, yang menurutnya memiliki nilai strategis tinggi.
“Keamanan Greenland, yang merupakan sayap utara dari daratan Amerika Serikat, sangatlah krusial,” ujar Whitaker.
Ia menambahkan, benteng pertahanan di belahan bumi barat ini penting untuk pengawasan aset angkatan laut dan keamanan jangka panjang AS.
Whitaker menekankan, pencairan es kutub membuka rute navigasi baru dan mengubah peta geopolitik Arktik, sehingga Greenland menjadi fokus pertahanan utama AS.
NATO Respon Latihan Militer Bersama
Sebagai respons atas ambisi aneksasi pemerintahan Donald Trump, Prancis mengumumkan latihan militer baru bersama Denmark. Whitaker mendorong sekutu NATO meningkatkan anggaran pertahanan mereka dan menyindir kondisi militer Eropa saat ini.
Ia mencontohkan operasi AS di Venezuela (Operasi Midnight Hammer) sebagai bukti kemampuan proyeksi kekuatan Amerika yang sulit ditandingi sekutu Eropa.
Whitaker juga menekankan pentingnya deregulasi ekonomi Uni Eropa untuk mendukung pertumbuhan kapital yang bisa digunakan membiayai pertahanan.
Ia menilai negara-negara Baltik dan Nordik lebih serius menghadapi ancaman Rusia karena posisi geografis mereka yang dekat.
Dialog Politik Tetap Dibuka
Whitaker menyebut pertemuan antara Wakil Presiden JD Vance, Menlu Marco Rubio, serta perwakilan Denmark dan Greenland berlangsung konstruktif.
Ia menekankan agar semua pihak tetap berkepala dingin untuk menghindari eskalasi yang tidak perlu.
Sementara itu, pemerintah Denmark dan Greenland menegaskan kedaulatan wilayah tersebut dan menolak aneksasi sepihak oleh AS.
Latihan militer NATO dianggap sebagai bentuk penguatan pertahanan kolektif, bukan persiapan pencaplokan.
Dengan pengerahan pasukan NATO dan tekanan politik dari AS, Greenland kini menjadi pusat perhatian geopolitik global.
Keseimbangan antara kedaulatan Denmark, keamanan Arktik, dan ambisi strategis AS akan menentukan dinamika kawasan ini dalam beberapa bulan ke depan. (*)