Dua Proyek Multy Year Contract Seperti Mandek di Dewan, BPKAD Kaltim Beri Penegasan

oleh -62 views
Muhammad Sa'duddin, Kepala BPKAD Kaltim/HO

PUBLIKKALTIM, SAMARINDA – Pemprov Kaltim melalui TAPD bersama DPRD Kaltim (Banggar) tengah melakukan pembahasan terkait APBD Kaltim 2021.

Salah satu rancangan program yang alot dibahas adalah usulan Pemprov Kaltim untuk dua kegiatan flayover Balikpapan dan pembangunan gedung di RSUD AWS Samarinda.

Namun pembahasan dua proyek multy year contract ini seperti mandek di dewan. Info terakhir yang diterima, dua proyek ini belum dibahas secara mendalam di DPRD.

Dikonfirmasi terkait ugensi pembangunan dua proyek ini, Muhammad Sa’duddin, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kaltim menyebut dua proyek yang diusulkan tersebut penting untuk dikerjakan.

“Kami menganggap pembangunan dua proyek itu penting, karena keduanya infrastruktur. Artinya sesuai dengan RJPMD yang dicanangkan oleh Gubernur,” kata Sa’duddin, Kamis (22/10/2020).

Menurut Sa’duddin, pembangunan gedung baru di RSUD AWS Samarinda urgen dilakukan lantaran saat ini beberapa gedung di AWS kerap kebanjiran bila hujan lebat mengguyur.

“RSUD itu selama ini selalu kebanjiran, lingkungannya sudah seperti itu. Jadi gak bisa tidak itu. Kalau banjir akan mengganggu pasien, maka akan ditingkatkan,” jelasnya.

Agar tidak mengganggu kenyamanan pasien yang dirawat di RSUD AWS, maka akan dilakukan redesain pada gedung yang kerap kebanjiran.

Selanjutnya, untuk pembangunan flyover di daerah Rapak, Balikpapan. Daerah tersebut seakan menjadi jalur tengkorak akibat sering terjadi kecelakan.

Daerah tersebut rawan kecelakaan lantaran dari lajur turunan gunung arah Jalan Soekarno Hatta, pengendara dipaksa berhenti di lampu merah usai turunan. Untuk itu flyover dimaksudkan untuk mengurangi kendaraan berhenti di lampu merah tersebut.

“Di situ kan ada lampu merah, harus berhenti. Sedangkan itukan daerah turunan jadi gak bisa langsung. Desain flyovernya saya belum tahu. Mungkin seperti flayover Air Hitam Samarinda. Intinya untuk mengurangi orang yang berhenti,” jelasnya.

Kedua proyek ini akan diusulkan masuk program MYC, lantaran menurut Sa’duddin kedua proyek tersebut tidak akan mampu diselesaikan dalam jangka 1 tahun.

Untuk anggaran proyek MCY tersebut diperkirakan memakan rupiah sebanyak Rp 490 miliar.

“Kenapa harus multi years contract karena tidak mungkin selesai 1 tahun. Dua pengerjaan sekitar Rp 490 miliar,” tegasnya.

Sementara itu, siapa kontraktor yang diancang-ancang menggarap dua mega proyek itu, Sa’duddin belum bicara banyak. Dirinya menegaskan, kontraktor akan ditentukan melalui lelang, baik perusahaan swasta maupun BUMN dapat mengikuti lelang tersebut.

“Kontraktornya nanti dilelang dulu, lelang terbuka sesuai ULP elektronik. Siapapun boleh ikut,” pungkasnya. (*)