PUBLIKKALTIM.COM – Sejumlah pihak telah memprediksi bahwa posisi hilal tidak akan terlihat pada Minggu (10/3/2024).
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa (Badan Riset dan Inovasi Nasional) BRIN Thomas Djamaluddin mengatakan sejauh ini belum ada rukyat yang berhasil melihat posisi hilal pada 10 Maret ini.
“Hasil rukyat pun tanggal 10 belum ada yang berhasil sehingga diprakirakan pada tanggal 10 saat Magrib tidak ada hilal yang terlihat dan belum memenuhi visibilitas hilal,” ujar Thomas, Jumat (8/3).
Oleh karena itu, Thomas menjelaskan kemungkinan besar awal puasa Ramadan 2024 jatuh pada 12 Maret 2024.
Diketahui, Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Sidang Isbat pada hari ini, Minggu (10/3) guna menentukan awal puasa atau 1 Ramadan 1445 Hijriah.
Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Kemenag Adib menuturkan Tim Hisab dan Rukyat Kemenag akan dilibatkan dalam Sidang Isbat yang dihadiri para duta besar negara sahabat dan perwakilan ormas Islam.
Perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga akan terlibat dalam Sidang Isbat hari ini.
Adib mengungkapkan Sidang Isbat akan dibagi menjadi tiga tahap.
Pertama, pemaparan posisi hilal awal Ramadan 1445 Hijriah berdasarkan hasil hisab atau perhitungan astronomi.
Pemaparan dilakukan Tim Hisab dan Rukyat Kemenag mulai pukul 17.00 WIB.
“Sesi ini terbuka untuk umum dan akan disiarkan secara live di Channel Youtube Bimas Islam,” ujar Adib, seperti dikutip dalam laman resmi Kemenag, Minggu (10/3).
Kedua, Sidang Isbat penetapan awal Ramadan 1445 Hijriah yang digelar tertutup setelah salat Magrib.
Sidang Isbat nantinya merujuk pada data hisab (informasi) dan rukyatulhilal (konfirmasi) yang dilakukan Tim Kemenag di 134 lokasi di seluruh Indonesia.
“Tahap ketiga, konferensi pers hasil sidang isbat yang juga disiarkan melalui media sosial Kemenag,” jelas Adib. (*)