MotoGP Chang 2026 Terancam, Konflik Thailand-Kamboja Picu Krisis Kemanusiaan

oleh -
oleh
Ilustrasi Bendera Thailand dan Kamboja/ist

PUBLIKKALTIM.COM – Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja yang pecah sejak pekan lalu telah menimbulkan dampak signifikan, termasuk terhadap dunia olahraga.

Sirkuit Internasional Chang di Provinsi Buriram  yang selama ini menjadi tuan rumah MotoGP,  kini berubah fungsi menjadi tempat penampungan pengungsi.

Menurut laporan dari Crash.net, pihak pengelola sirkuit menyatakan telah menerima lebih dari 8.000 pengungsi dari wilayah perbatasan yang terdampak konflik.

Evakuasi besar-besaran dilakukan sejak serangan bersenjata mulai meluas ke berbagai titik.

“Kami berharap situasi kritis ini segera berlalu,” ujar perwakilan Sirkuit Internasional Chang.

Konflik yang melibatkan jet tempur, tank, dan pasukan darat ini berpusat di kawasan perbatasan.

Setidaknya empat provinsi di Thailand dilaporkan terdampak langsung, yakni Si Sa Ket, Surin, Ubon Ratchathani dan Buri Ram.

Data terakhir menunjukkan sedikitnya 13 korban tewas di Kamboja, delapan di antaranya warga sipil.

Sementara di Thailand, korban jiwa mencapai 20 orang, dengan banyak warga sipil juga menjadi korban.

Bangkok Post menyebutkan bahwa total warga sipil yang terbunuh mencapai 15 orang sejauh ini.

BERITA LAINNYA :  Final Piala AFF 2020, Indonesia dan Thailand Tak Bisa Kibarkan Bendera Masing-masing, Ini Penyebabnya

Sirkuit Chang yang menjadi lokasi seri pembuka MotoGP 2025 saat ini masih dijadwalkan untuk kembali menggelar seri pembuka musim 2026 pada 1 Maret 2026.

Namun, dengan situasi keamanan yang belum sepenuhnya kondusif, muncul kekhawatiran soal keberlanjutan event tersebut.

Pihak penyelenggara MotoGP hingga kini belum memberikan keterangan resmi terkait potensi pembatalan atau pemindahan lokasi seri Thailand musim depan.

Di tengah eskalasi konflik, terdapat harapan baru.

Pada hari ini, Senin, 28 Juli 2025, Thailand dan Kamboja sepakat untuk menggelar perundingan damai di Malaysia.

Langkah diplomatik ini disambut positif oleh masyarakat internasional, terutama negara-negara ASEAN yang khawatir konflik ini bisa meluas. (*)