PUPR Samarinda Pastikan Progres Teras Tahap II Capai 70 Persen, Fokus pada Konsep Urban Waterfront

oleh -
oleh
Pembangunan Teras Samarinda tahap II di kawasan Dermaga Pasar Pagi kini memasuki fase krusial dengan progres yang mencapai 70 persen. Foto:Ist

PUBLIKKALTIM.COM – Pembangunan Teras Samarinda tahap II di kawasan Dermaga Pasar Pagi kini memasuki fase krusial dengan progres yang mencapai 70 persen. Proyek strategis Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda ini menjadi bagian penting dari upaya besar menata tepian Sungai Mahakam sebagai ruang publik modern, ramah lingkungan, dan bebas dari dominasi kendaraan bermotor.

Dalam rancangan terbaru, Pemkot Samarinda mengambil langkah berani dengan tidak menyediakan lahan parkir kendaraan di area Teras Samarinda II. Kebijakan ini menjadi simbol perubahan besar dalam tata ruang perkotaan dari kawasan padat kendaraan menjadi ruang publik terbuka yang lebih humanis, estetis, dan berorientasi pada pejalan kaki ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda, Desy Damayanti, saat ditemui di kantornya.

Desy menjelaskan bahwa proyek Teras Samarinda tahap II dibagi ke dalam empat segmen utama agar pelaksanaannya dapat dilakukan secara paralel. Strategi ini bertujuan mempercepat penyelesaian pekerjaan tanpa mengorbankan kualitas konstruksi.

“Kalau Teras Samarinda tahap II itu ada empat segmen, yaitu segmen 1, segmen 2, segmen 3, dan segmen 4. Rata-rata progresnya saat ini sudah mencapai di atas 60 hingga 70 persen,” jelas Desy.

Ia menambahkan, pembagian ini juga menjadi cara agar lebih dari satu kontraktor bisa bekerja bersamaan di lokasi berbeda, sehingga efisiensi waktu dan sumber daya dapat tercapai.

“Kalau hanya satu perusahaan yang mengerjakan semua, tentu waktunya akan panjang. Dengan empat segmen, pekerjaan bisa berjalan serentak dan target penyelesaian lebih cepat,” ujarnya.

Dari empat segmen yang dikerjakan, segmen yang berada di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur disebut sebagai yang paling menantang. Hal ini karena pembangunan di area tersebut dilakukan di atas permukaan air, bukan di darat seperti segmen lainnya.

“Kendala terbesar memang ada di segmen yang berada di depan kantor gubernur. Karena kegiatan di sana termasuk jenis pekerjaan baru, yakni membangun struktur di atas sungai,” terang Desy.

Menurutnya, pengerjaan struktur di atas air memerlukan perencanaan teknis yang sangat detail, mulai dari kekuatan pondasi, stabilitas tiang pancang, hingga keselamatan para pekerja di lapangan.

“Kalau pekerjaan biasa hanya melibatkan struktur darat, kali ini kami bekerja di atas sungai. Jadi perlu kehati-hatian dan pengawasan ekstra,” tambahnya.

Berbeda dengan segmen di depan Kantor Gubernur, segmen 1 berfokus pada pembangunan taman dan ruang terbuka hijau. Desy menjelaskan, segmen ini berjalan lancar tanpa hambatan berarti karena berada di kawasan darat dan sudah mengikuti desain awal sesuai masterplan delapan segmen Teras Samarinda.

“Segmen 1 ini lebih kepada pembuatan taman. Semua pekerjaan masih sesuai dengan masterplan awal dan tidak ada perubahan besar,” kata Desy.

BERITA LAINNYA :  Cegah Penyebaran Covid-19, PW KBBKT Bagi-bagi Ribuan Masker dan Takjil di 2 Titik Jalan Samarinda

Sementara itu, segmen 4 mengalami sedikit penyesuaian desain. Perubahan ini bukan karena masalah teknis, melainkan untuk menyesuaikan dengan rencana sistem angkutan massal perkotaan yang tengah disiapkan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda.

“Perubahan hanya terjadi di segmen 4, dan itu pun menyesuaikan dengan konsep transportasi massal yang sedang disiapkan pemerintah kota,” jelasnya.

Proyek Teras Samarinda merupakan bagian dari program besar penataan kawasan tepi Sungai Mahakam menjadi destinasi wisata urban waterfront yang menggabungkan fungsi sosial, ekonomi, dan ekologi. Kawasan ini nantinya akan menjadi ruang publik multifungsi, tempat masyarakat bisa bersantai, berolahraga, berdiskusi, hingga menyelenggarakan kegiatan budaya.

Kebijakan tanpa area parkir di Teras Samarinda II dinilai sangat penting untuk menghindari kemacetan di pusat kota dan memperbaiki sirkulasi kendaraan. Pemerintah berencana menyediakan kantong parkir di lokasi lain di sekitar Pasar Pagi agar kendaraan tetap tertata rapi tanpa mengganggu pejalan kaki.

Langkah ini juga sejalan dengan visi Wali Kota Samarinda Andi Harun, yang bertekad menjadikan kota tepian Mahakam sebagai kota modern berbasis ruang publik dan lingkungan.

Desy memastikan, seluruh pekerjaan tahap II berjalan sesuai dengan jadwal dan spesifikasi teknis. Setiap aspek pengerjaan mendapat pengawasan ketat dari tim PUPR agar hasilnya aman, indah, dan sesuai dengan konsep ramah lingkungan.

“Kami menjalankan kegiatan berdasarkan masterplan awal. Semua proses dilakukan dengan pengawasan ketat agar hasilnya optimal dan aman untuk masyarakat,” tuturnya.

Jika seluruh empat segmen tahap II rampung, pembangunan akan dilanjutkan ke tahap berikutnya. Total, akan ada delapan segmen Teras Samarinda yang membentang dari kawasan Jembatan Mahakam hingga Sungai Kunjang.

Proyek besar ini diproyeksikan membentuk koridor ruang publik terpanjang di Kalimantan Timur, lengkap dengan taman tematik, jalur pedestrian, area kuliner, dan zona ekonomi kreatif bagi UMKM.

“Tidak ada perubahan besar terhadap desain keseluruhan. Kami hanya memastikan setiap tahapnya bisa selesai dengan baik agar masyarakat segera bisa menikmati hasilnya,” pungkas Desy.

Dengan progres mencapai lebih dari 70 persen, pembangunan Teras Samarinda Tahap II menjadi bukti komitmen pemerintah dalam mengubah wajah kota menuju arah yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan.

(Redaksi)