Rektor Unri Polisikan Mahasiswa yang Kritik UKT, KIKA Minta Kapolri untuk Tak Proses

oleh -
oleh
Suasana kampus UNSRI/Foto: akupintar.id

PUBLIKKALTIM.COM – Rektor Universitas Riau (Unri) Sri Indarti melaporkan mahasiswanya ke polisi karena memprotes biaya kuliah (uang kuliah tunggal/UKT) yang dinilai mahal.

Tindakan rektor itu dinilai melanggar hak asasi manusia (HAM) oleh Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA).

Menurut KIKA, bahwa kebebasan untuk berkumpul, berserikat, dan menyampaikan aspirasi dalam dunia pendidikan tinggi merupakan hak sivitas akademika dan merupakan bagian dari kebebasan berekspresi dan hak atas pendidikan.

“Serangan terhadap kebebasan akademik kepada mahasiswa seperti yang terjadi di Unri dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM,” ujar KIKA dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/5).

Lebih lanjut, KIKA mengingatkan tentang Standar Norma dan Pengaturan (SNP) Kebebasan Komnas HAM.

Poin kelima dari standar itu adalah insan akademis harus bebas dari pembatasan dan pendisiplinan dalam rangka mengembangkan budaya akademik yang bertanggung jawab dan memiliki integritas keilmuan untuk kemanusiaan.

KIKA mengeluarkan lima rekomendasi terkait Rektor Unri melaporkan mahasiswa ke polisi karena protes biaya kuliah mahal.

BERITA LAINNYA :  Kabar Gembira, Mahasiswa Akan Dapat Bantuan Rp 2,4 Juta dari Kemendikbudristek, Berikut Syaratnya

Salah satunya meminta kepolisian tidak menindaklanjuti laporan tersebut.

“Mengimbau Pihak Kepolisian untuk tidak berhadap-hadapan dengan mahasiswa yang menolak kenaikan kebijakan UKT,” ujar KIKA.

Kaukus juga mengimbau Komnas HAM dan Kemendikbudristek menegur Sri.

Selain itu, mereka berharap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memerintahkan Kapolda Sumut untuk tidak memproses pengaduan tersebut.

Diberitakan sebelumnya, mahasiswa Unri Khariq Anhar dilaporkan ke polisi oleh Rektor Unri Sri Indarti.

Khariq dijerat UU ITE karena aksinya memprotes uang kuliah mahal.

Khariq memprotes ketentuan Iuran Pembangunan Institusi (IPI) di lingkungan Unri.

Pada 4 Maret 2024, Khariq merekam aksinya meletakkan jas almamater di depan kampus seperti berjualan. (*)