PUBLIKKALTIM.COM – Kemudahan bermedia sosial sering kali membuat sebagian pengguna lupa menjaga etika dalam berkomentar.
Fenomena ini dirasakan langsung oleh sejumlah publik figur, salah satunya penyanyi dan instruktur zumba, Denada Tambunan.
Melansir berbagai sumber, Sabtu (25/10/2025), Denada kerap menjadi sasaran kritik tajam hingga hinaan di media sosial.
Komentar negatif yang diterimanya sering berkaitan dengan pilihan busana yang dianggap terlalu terbuka atau seksi.
Penyanyi yang juga dikenal dengan gaya panggungnya yang energik itu tak jarang mengunggah potret dirinya mengenakan crop top atau pakaian olahraga yang memperlihatkan bentuk tubuhnya.
Pilihan fesyen tersebut rupanya menuai beragam respons dari warganet—dari pujian hingga cibiran.
Meski sudah lama bergelut di dunia hiburan, Denada mengaku tetap prihatin dengan cara sebagian orang melontarkan kritik yang menjurus ke penghinaan.
“Kita setuju dikritik, iya. Tapi bukan berarti mentang-mentang kita publik figure, kita selalu halal untuk dihina,” ujar Denada menegaskan.
Menurutnya, menjadi publik figur memang berarti siap menerima sorotan publik.
Namun, hal itu bukan pembenaran bagi siapa pun untuk menyerang secara pribadi atau menggunakan kata-kata kasar.
“Kadang orang lupa, kalau di balik layar itu kita juga manusia. Ada perasaan, ada batasnya juga,” tambahnya.
Denada, yang merupakan putri dari penyanyi legendaris Diana Nasution, mengaku memahami bahwa kritik merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia hiburan.
Namun, menurutnya ada garis halus yang membedakan antara kritik membangun dan komentar yang melukai mental seseorang.
“Iya benar, itu yang kadang orang lupa,” ucapnya.
Ia juga menyoroti fenomena maraknya ujaran kebencian di media sosial.
Dengan akses yang semakin mudah dan anonim, banyak orang merasa bebas melontarkan pendapat tanpa memikirkan dampaknya.
“Kadang-kadang suka kasihan, karena ada beberapa orang yang mungkin kayak aku udah terbiasa, ya udah, it’s just part of the game. Tapi kan ada juga yang sampai kena mental karena hal-hal kayak gitu. Jadi berbaik-baiklah,” pesan Denada.
Penyanyi yang memulai karier sejak akhir 1990-an ini mengaku dirinya sudah cukup terbiasa menghadapi komentar negatif.
Namun ia khawatir dengan dampaknya bagi orang lain yang mungkin belum sekuat dirinya.
“Tidak semua orang punya daya tahan mental yang sama. Ada yang akhirnya menarik diri, stres, bahkan depresi. Makanya aku berharap, semoga orang-orang bisa lebih bijak menggunakan media sosial,” imbuhnya.
Denada juga menjelaskan alasan di balik pilihan busananya yang sering menjadi perbincangan. Ia menegaskan bahwa pakaian yang dikenakannya bukan semata-mata untuk tampil seksi, tetapi lebih pada faktor kenyamanan dan kebutuhan profesinya.
“Aku instruktur zumba dan suka olahraga, jadi kalau nyanyi di panggung juga harus banyak bergerak. Pakaian yang kupakai pasti harus bisa mendukung itu,” jelasnya.
Menurut Denada, fesyen adalah bentuk ekspresi diri. Ia percaya setiap orang berhak memilih gaya berpakaian yang membuat mereka merasa nyaman dan percaya diri, tanpa harus takut dengan penilaian orang lain.
“Kalau aku nyaman dan merasa bisa tampil maksimal, kenapa tidak? Selama nggak mengganggu orang lain, aku pikir sah-sah aja,” ujarnya dengan santai.
Meski sudah terbiasa menerima cibiran, Denada tidak selalu diam. Ada kalanya ia menanggapi komentar pedas dari warganet, meski hanya untuk bersenang-senang.
“Kalau lagi isengnya kumat banget, bener-bener macet banget, nggak tahu lagi mau ngapain, udah kerjain semua kerjaan, ya pengen bales,” katanya sambil tertawa.
Namun, ia menegaskan bahwa sebagian besar waktu ia memilih untuk tidak ambil pusing. Menurutnya, membalas semua komentar negatif justru akan menguras energi dan tidak memberikan manfaat.
“Sekarang aku lebih banyak fokus ke hal-hal positif aja. Kalau ada yang ngomongin buruk, yaudah. Toh hidupku juga bukan buat nyenengin semua orang,” ujarnya.
Denada juga berharap publik bisa lebih memahami posisi para figur publik.
Di balik popularitas dan sorotan kamera, mereka tetap manusia biasa yang bisa merasa sakit hati.
“Kita semua punya kehidupan pribadi, punya anak, keluarga, tanggung jawab. Jadi semoga ke depannya orang-orang bisa lebih menghargai satu sama lain,” pungkasnya. (*)