Soal Dugaan Aliran Sesat di Sungai Dama, Ketua MUI Samarinda Sudah Terima Laporan

oleh -
oleh
Ketua MUI Samarinda, Zaini Naim

PUBLIKKALTIM.COM, SAMARINDA – Ketua Majelis Ulama Indonesia  (MUI) Samarinda, Zaini Naim beri tanggapan atas adanya dugaan aliran sesat di Kelurahan Sungai Dama, Kecamatan Samarinda Ilir, Gunung Manggah.

Terkait adanya dugaan aliran sesat yang sempat didatangi oleh warga  setempat, tadi malam (6/10/2019), MUI Samarinda mengimbau semua harus menahan diri dan tidak mengambil tindakan sendiri.

“Semua harus menahan diri, jangan langsung menghakimi. Biar bagaimanapun sesat atau tidak itu adalah saudara kita juga, kalau itu sesat urusan MUI yang meluruskan bahwa ajaran itu tidak betul. Jangan masyarakat yang mengambil tindakan sendiri. Tetap jaga kerukunan dengan cara baik,” kata Ketua MUI Samarinda, Zaini Naim.

Adapun laporan ke pihak MUI bahwa itu adalah semacam pengajian tetapi tertutup dan tidak bisa dibawa untuk berkomunikasi.

“Laporan kepada saya itu adalah semacam pengajian, tapi aneh. Pengajian tertutup orangnya tidak bisa dibawa komunikasi,” katanya.

Lanjutnya, ia  mengatakan bahwa Rasulullah tidak menutupi ajarannya. Apa yang disampaikan itu juga termasuk dalam arti membuka diri untuk berkomukasi.

BERITA LAINNYA :  Tahun 2021, BLT BPJS Ketenagakerjaan Disetop 

“Rasulullah tidak menutupi ajarannya. Nabi sendiri kan, apa saja yang mau disampaikan akan disampaikan,” lanjutnya.

Atas dugaan itu, MUI Samarinda menyikapinya dengan tidak sembarangan atau tidak langsung menetapkan bahwa itu adalah aliran sesat. Bagi MUI, butuh waktu panjang melalui tahapan panggilan dulu.

“MUI tidak sembarangan menetapkan itu sesat dengan waktu singkat, semua itu butuh waktu panjang. Pertama kita akan panggil kalau mereka gak datang kita yang datang. Kalau gak bisa ditemui, bisa juga kita datangi murid pengajiannya untuk mengetahui aktivitas dan ajaranya,” katanya.

“Pendek kata sesat atau tidak itu tupoksi MUI dan jangan terlalu membesar-besarkan hal tadi malam. Perlu di ingat juga Negara ini ada aturan dan norma agama,” ucapnya. (*)