PUBLIKKALTIM.COM – Forum Silaturahmi dan Sosialisasi Peran serta Fungsi Komite Sekolah digelar di Aula Gedung Erlangga, Samarinda Seberang, Rabu (10/12/2025).
Kegiatan itu menghadirkan pesan kuat, yakni komite sekolah harus bergerak lebih aktif di tengah derasnya perubahan pendidikan modern.
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, turut hadir bersama jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda serta Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP).
Namun, sorotan peserta mengarah pada pemaparan dua anggota Dewan Pendidikan Kota Samarinda (DPKS), Ardiansyah dan Tejo, yang menyajikan pandangan tajam mengenai tantangan pendidikan masa kini.
Ardiansyah membuka sesi dengan refleksi panjang pengabdiannya sebagai pengawas sekolah.
Ia menegaskan bahwa banyak komite sekolah masih bergerak sebatas formalitas dan belum menjalankan fungsi strategisnya.
“Komite sekolah tidak bisa lagi hanya menjadi pelengkap administrasi. Komite harus benar-benar menjadi mitra sekolah,” tegas Ardiansyah di hadapan peserta.
Menurutnya, komite kini memiliki dasar hukum yang jauh lebih kuat.
Dengan regulasi terbaru dari Kementerian Pendidikan, komite memiliki ruang lebih luas untuk berpartisipasi dalam peningkatan kualitas pendidikan.
Lima Mandat Utama Komite Sekolah
Dalam pemaparannya, Ardiansyah menyampaikan lima mandat penting yang wajib menjadi prioritas komite:
1. Mendukung pelayanan pendidikan yang lebih baik
2. Mendorong pengelolaan sarana dan prasarana sekolah
3. Menguatkan aspek pembiayaan serta transparansi anggaran
4. Mengawasi mutu pembelajaran
5. Menjaga kualitas peserta didik
Ia menekankan bahwa komite sekolah bukan lembaga penggalang dana, apalagi penentu kebijakan sekolah.
Komite adalah mitra strategis yang menjembatani aspirasi masyarakat sekaligus memastikan mutu pendidikan terjaga dengan baik.
“Tugasnya jelas, perannya jelas. Tidak ada alasan untuk tidak bergerak,” ujarnya.
Ardiansyah juga menyinggung percepatan teknologi yang mempengaruhi karakter dan kebutuhan sumber daya manusia.
Karena itu, ia mengajak komite untuk memahami dinamika zaman agar tidak tertinggal dalam menghadapi tantangan pendidikan digital.
Tantangan AI dan Menurunnya Daya Pikir Siswa
Setelah Ardiansyah, Tejo mengambil alih sesi dengan gaya penyampaian santai namun penuh makna.
Ia menyoroti fenomena pelajar yang semakin bergantung pada kecerdasan buatan (AI) dalam mengerjakan tugas.
“Sekarang anak SMA kalau ada PR, langsung buka AI. Cepat, instan, beres. Tapi proses berpikirnya hilang,” ucap Tejo.
Ia berkisah tentang masa mudanya yang penuh keterbatasan, namun justru membentuk kemampuan analisis yang kuat.
Menurutnya, kemudahan teknologi saat ini berpotensi melemahkan daya pikir jika tidak didampingi dengan baik.
Tejo menegaskan bahwa sekolah dan komite harus merumuskan panduan penggunaan teknologi secara bijak agar siswa tetap memiliki kecakapan berpikir kritis, kreatif, dan analitis.
“AI itu alat, bukan pengganti otak manusia. Kalau tidak kita atur, kualitas pendidikan bisa jatuh,” tambahnya.
Kolaborasi Menyusun Rekomendasi Pendidikan 2026
Tejo menekankan bahwa forum ini tidak berhenti pada ceramah satu arah.
Ia menyampaikan bahwa DPKS membutuhkan masukan langsung dari pelaku pendidikan agar rekomendasi pendidikan tahun 2026 lebih relevan.
“Kami tidak mengajari orang-orang yang sudah paham. Kami ingin berdiskusi, mendengar masukan, dan menyusun rekomendasi yang benar-benar sesuai kebutuhan lapangan,” jelasnya.
Menurut Tejo, rekomendasi tahunan DPKS tidak boleh menjadi dokumen administratif semata, tetapi harus menjadi arah kebijakan yang bisa diimplementasikan sekolah dan pemerintah daerah.
Komite Sekolah Harus Lebih Proaktif
Melalui forum ini, DPKS menegaskan bahwa urgensi keberadaan komite sekolah semakin besar.
Komite harus memahami arah kebijakan pendidikan, terlibat aktif dalam pengawasan mutu, serta mampu berkolaborasi dengan guru dan sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dalam era teknologi cepat, komite juga perlu memperkuat literasi digital, baik untuk dirinya maupun orang tua di sekolah.
Tantangan berupa ketergantungan siswa pada AI, perubahan kurikulum, hingga persaingan global wajib menjadi perhatian bersama.
Kegiatan yang berlangsung hingga sore itu ditutup dengan dialog interaktif, menghasilkan berbagai masukan terkait penguatan kapasitas komite, transparansi sekolah, hingga pentingnya pelatihan literasi digital bagi orang tua.
Forum Silaturahmi dan Sosialisasi Peran dan Fungsi Komite Sekolah menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak dapat berjalan sendiri.
Komite, sekolah, guru, dan orang tua harus bersatu menghadapi perubahan zaman.
Dengan kolaborasi yang kuat, pendidikan di Samarinda dapat melahirkan generasi yang tangguh, adaptif, dan siap bersaing di era digital. (redaksi)