Wali Kota Andi Harun Dorong HMI Cetak Generasi Berintegritas dan Solutif

oleh -
oleh
Suasana pelantikan HMI dan Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Samarinda Periode 2026–2027/ist

PUBLIKKALTIM.COM – Wali Kota Samarinda, Andi Harun, mengajak Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk terus mengambil peran sebagai penjaga peradaban, produsen gagasan, dan penggerak transformasi sosial di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa.

Menurutnya, organisasi kader seperti HMI memiliki tanggung jawab besar dalam melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan kepedulian terhadap masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Andi Harun saat menghadiri sekaligus memberikan sambutan dalam Pelantikan HMI dan Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Samarinda Periode 2026–2027 yang mengusung tema “HMI Maju: Transformasi Gerakan HMI, Ikhtiar Mewujudkan Samarinda Maju” di Arutala Ballroom Gedung B Bapperida Kota Samarinda, Selasa (9/6/2026) malam.

Dalam kesempatan itu, Andi Harun menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pengurus yang baru dilantik.

Ia berharap kepengurusan baru mampu menjaga semangat perjuangan organisasi sekaligus memperkuat kontribusi HMI bagi pembangunan daerah dan bangsa.

“Atas nama pribadi maupun Pemerintah Kota Samarinda, saya mengucapkan tahniah dan selamat kepada ketua, sekretaris, serta seluruh pengurus yang baru dilantik. Teruslah istiqamah dan konsisten dalam perjuangan sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam,” ujar Andi Harun.

HMI Harus Mampu Menjawab Tantangan Zaman

Dalam pidatonya, Andi Harun mengajak para kader HMI untuk memahami perubahan zaman melalui perspektif sejarah perjalanan organisasi.

Ia menjelaskan bahwa HMI telah melewati berbagai fase perjuangan sejak masa kemerdekaan hingga era reformasi.

Pada setiap fase tersebut, HMI selalu hadir sebagai bagian penting dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan keislaman.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini berbeda dengan tantangan pada masa lalu.

Jika sebelumnya perjuangan lebih banyak berkaitan dengan kolonialisme dan demokrasi, kini generasi muda harus menghadapi perubahan sosial yang dipicu oleh perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi.

Ia menilai kemajuan teknologi telah membawa banyak manfaat, namun juga menghadirkan persoalan baru seperti disinformasi, polarisasi sosial, hingga melemahnya kualitas interaksi masyarakat.

Karena itu, kader HMI perlu memperkuat kapasitas intelektual agar mampu menjadi bagian dari solusi.

“Tantangan kita hari ini bukan hanya persoalan fisik dan politik, tetapi juga perubahan sosial akibat perkembangan teknologi, kapitalisasi informasi, dan derasnya arus disinformasi yang dapat memengaruhi kualitas kehidupan masyarakat,” katanya.

Menghidupkan Kembali Nilai Insan Cita

Andi Harun menegaskan bahwa nilai-nilai dasar HMI yang terangkum dalam konsep Insan Cita masih sangat relevan untuk menjawab tantangan masa kini.

Konsep tersebut, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter kader yang berkualitas.

Ia menjelaskan bahwa Insan Akademis menuntut kader HMI untuk terus mengembangkan tradisi keilmuan dan berpikir kritis.

Sementara Insan Pencipta mendorong kader agar terus berinovasi dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

Adapun Insan Pengabdi menegaskan pentingnya keterlibatan kader dalam kehidupan sosial dan pelayanan kepada masyarakat.

“Insan Akademis berarti HMI tidak boleh berhenti pada basis keilmuan dan tradisi berpikir kritis. Insan Pencipta mengandung pesan agar kader terus berinovasi dan berkarya. Sedangkan Insan Pengabdi menegaskan pentingnya kehadiran kader HMI dalam dimensi sosial dan kemanfaatan bagi masyarakat,” jelasnya.

BERITA LAINNYA :  Ekstremis Zionis Bakar Masjid Al-Aqsa Kiblat Pertama Umat Muslim, Iran Murka dan Salahkan UEA

Ia menambahkan bahwa kader HMI harus mampu mengintegrasikan ketiga nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehingga keberadaan organisasi benar-benar memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar.

Menjadi Produsen Gagasan dan Solusi

Pada kesempatan itu, Andi Harun juga menyoroti pentingnya budaya membaca dan tradisi intelektual di kalangan generasi muda.

Ia menilai salah satu persoalan yang dihadapi bangsa saat ini adalah krisis pengetahuan yang berpotensi melahirkan kebijakan yang tidak berbasis data dan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, ia meminta HMI untuk terus mengembangkan tradisi diskusi, penelitian, dan kajian ilmiah.

Menurutnya, organisasi mahasiswa harus tampil sebagai pusat lahirnya gagasan-gagasan baru yang dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

“HMI harus terus menjadi organisasi produsen gagasan. Kritik itu penting, tetapi lebih penting lagi menghadirkan solusi dan gagasan yang konstruktif bagi pembangunan daerah maupun bangsa,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa kontribusi mahasiswa tidak cukup hanya melalui kritik terhadap kebijakan publik.

Mahasiswa juga perlu menawarkan alternatif solusi yang realistis dan dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Integritas Menjadi Kunci Kepemimpinan

Selain krisis pengetahuan, Andi Harun mengingatkan adanya tantangan lain berupa krisis moral, krisis keteladanan, dan krisis kepemimpinan.

Menurutnya, Indonesia tidak kekurangan orang-orang cerdas, namun masih membutuhkan lebih banyak pemimpin yang memiliki integritas, empati, dan komitmen terhadap kepentingan rakyat.

Ia mengajak kader HMI untuk meneladani para senior organisasi yang tidak hanya berhasil dalam karier, tetapi juga mampu menjaga nilai-nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Peradaban tidak hancur karena banyaknya orang bodoh, tetapi karena orang-orang pintar kehilangan integritas. Karena itu, kader HMI harus meneladani para senior yang tidak hanya menjadi good person, tetapi juga good citizen dan good leader,” ujarnya.

Mitra Strategis Pembangunan Daerah

Di akhir sambutannya, Andi Harun menegaskan bahwa Pemerintah Kota Samarinda terus membuka ruang dialog dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan.

Ia menilai masukan dari kelompok kritis seperti HMI menjadi bagian penting dalam menjaga arah pembangunan agar tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Ia berharap HMI terus hadir sebagai mitra strategis yang kritis namun konstruktif, sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Teruslah menjadi kompas peradaban, menjadi penjaga arah bangsa, menjadi perekat persatuan nasional, serta menjadi penyejuk dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Saya yakin HMI akan terus berada pada posisi itu dan menjadi mitra strategis yang kritis bagi pemerintahan di semua tingkatan,” pungkasnya. (*)

1.099 Tayangan