PUBLIKKALTIM.COM – Perdebatan calon presiden Anies Baswedan dan Prabowo Subianto di panggung debat yang digelar KPU tampak panas.
Dalam debat ke-3 itu, tampak Anies menyerang Prabowo sejak menit awal.
Terkait hal itu, Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN) Adib Miftahul berpendapat serangan Anies ke Prabowo secara bertubi-tubi karena elektabilitasnya rendah di berbagai survei.
Sementara elektabilitas Prabowo selalu unggul.
Prabowo juga mendapat dukungan dari kekuasaan, yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang merupakan ayah Gibran.
Karena itu, kata dia, wajar Anies menjadikan panggung debat untuk menyerang Prabowo.
“Ini adalah kekuatan besar yang harus ‘dihajar’ karena bagi Anies dari berbagai survei juga nilainya kecil. Seolah-olah ini adalah batu sandungan terbesar,” ujarnya.
Ia menyebut Anies tahu persis kelemahan Prabowo.
Anies berhasil membuat Prabowo emosional, sehingga pembahasan mengenai pertahanan, keamanan, geopolitik, dan hubungan internasional tak menyentuh esensi.
Padahal, semestinya Prabowo sebagai Menteri Pertahanan menguasai tema tersebut.
“Anies menurut saya pintar, dihajar dulu dari sisi psikologis secara personal. Di situlah saya kira kepancing emosionalnya Pak Prabowo yang saya lihat secara verbal maupun non verbal itu jelas Pak Prabowo terganggu dan akhirnya dia merasa diserang secara personal,” jels Adib.
Namun, Adib menilai pernyataan Anies yang menyebut Prabowo memiliki lahan lebih dari 340 ribu hektare offside.
Ia menilai hal itu di luar konteks pembahasan mengenai pertahanan.
“Di situlah kental dengan serangan pribadi,” katanya.
Adib mengatakan ketidaksukaan Prabowo terhadap serangan-serangan Anies terlihat dari beberapa kosa kata yang dilontarkan seperti ‘omon-omon’ dan ‘Pak Anies, Pak Anies’.
Adib pun mengatakan saling serang antara Anies dan Prabowo berdampak pada elektoral.
Pemilih rasional yang menganut adat ketimuran bisa bergeser dari Anies lantaran telah menyerang ranah pribadi Prabowo.
“Akhirnya kan publik melihat bahwa ini adalah sentimen pribadi. Untung saja Pak Prabowo tidak ngucap balik lagi misalnya, ‘Anda ini kan penghianat’. Nah, ini akan menjadi debat kusir akhirnya,” pungkasnya. (*)