PUBLIKKALTIM.COM – Pasukan Amerika Serikat (AS) bersama sekutunya melancarkan serangan militer skala besar terhadap kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Suriah.
Serangan ini menjadi respons langsung atas tewasnya tiga warga negara AS dalam serangan bersenjata di Palmyra pada Desember 2025.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan operasi tersebut pada Minggu (11/1).
Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebut pasukan AS menargetkan posisi ISIS di berbagai wilayah Suriah, meski tidak merinci lokasi serangan secara spesifik.
Operasi Hawkeye Strike Menargetkan Basis ISIS
CENTCOM menyatakan serangan itu merupakan bagian dari Operasi Hawkeye Strike, yang diluncurkan sebagai pembalasan atas serangan mematikan terhadap pasukan AS dan mitra Suriah di Palmyra.
Unggahan CENTCOM di media sosial memperlihatkan video udara buram yang menunjukkan sejumlah ledakan terpisah, diduga terjadi di wilayah pedesaan.
Menurut CENTCOM, operasi ini bertujuan melemahkan jaringan ISIS, menghancurkan tempat persembunyian, serta mencegah kelompok tersebut melakukan serangan lanjutan terhadap pasukan AS dan sekutunya di kawasan tersebut.
Tiga Warga AS Tewas dalam Serangan Palmyra
Serangan balasan ini menyusul insiden pada 13 Desember 2025, ketika seorang penembak tunggal menyerang pasukan AS di Palmyra.
Serangan tersebut menewaskan dua tentara AS dan satu penerjemah sipil AS, serta melukai tiga tentara lainnya.
Washington menyebut pelaku serangan sebagai militan ISIS.
Namun, Kementerian Dalam Negeri Suriah mengklaim penyerang merupakan anggota pasukan keamanan Suriah yang akan dipecat karena terpapar paham ekstremisme.
AS Tegaskan Tidak Akan Mundur
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan komitmen Washington untuk terus memburu ISIS.
“Kami tidak akan pernah lupa, dan tidak akan pernah menyerah,” ujarnya dalam unggahan di media sosial.
Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan kemarahannya atas tewasnya tiga warga AS tersebut.
Melalui Truth Social, Trump menyebut insiden itu sebagai serangan ISIS terhadap Amerika Serikat dan menegaskan akan ada pembalasan serius.
“Kami berduka atas kehilangan tiga patriot Amerika. Presiden Suriah juga sangat marah dan terganggu oleh serangan ini. Akan ada pembalasan yang sangat serius,” tulis Trump.
ISIS Masih Aktif Meski Kalah Teritorial
ISIS sempat menguasai sebagian besar wilayah Suriah dan Irak pada 2014.
Meski koalisi internasional berhasil mengalahkan ISIS secara teritorial pada 2019, kelompok tersebut masih mempertahankan keberadaan dan melakukan serangan, terutama di wilayah gurun Suriah.
Pasukan AS yang diserang di Palmyra diketahui mendukung Operasi Inherent Resolve, misi internasional untuk memerangi ISIS dan menjaga stabilitas kawasan. (*)