Demo Rusuh, HMI Desak Kapolri Evaluasi Kinerja Kapolda Metro Jaya

oleh -72 views
oleh
Kapolri, Listyo Sigit Prabowo/pikiran-rakyat.com

PUBLIKKALTIM.COM – Kapolri Listyo Sigit Prabowo didesak Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) untuk mengevaluasi kinerja Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran.

Desakan ini merupakan buntut tindakan anggota kepolisian yang dinilai represif hingga melakukan kekerasan saat menangani unjuk rasa kader HMI se-Jabodetabek di Istana Merdeka, Jakarta Pusat.

“Kita meminta Kapolri untuk mengevaluasi kinerja Kapolda Metro Jaya Fadil Imran,” ucap Arven dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (22/4).

Arven menilai Fadil telah gagal dalam mewujudkan tag line Polri Presisi dan tidak humanis saat menghadapi aktivis dan mahasiswa.

Arven mengaku kecewa jajaran kepolisian di bawah naungan Polda Metro Jaya membubarkan dan diduga melakukan pemukulan terhadap sejumlah kader HMI.

“Terkait penanganan sore ini, jadi kan anak buahnya (Fadil) semua yang turun ini,” tegas Arven.

Untuk diketahui, kader HMI se Jabodetabek menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Jumat (22/4).

Mereka meminta kader mereka di Bekasi sekaligus guru ngaji, Muhammad Fikry yang dituduh melakukan begal untuk dibebaskan.

Mereka yakin Fikry menjadi korban salah tangkap.

Namun aksi tersebut berujung ricuh.

Puluhan kader HMI dikabarkan mengalami luka lebam usai bentrok dengan aparat kepolisian.

“Puluhan yang luka dan lebam,” ujar Ketua Bidang Pertahanan dan Keamanan PB HMI, Arven Marta dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (22/4).

BERITA LAINNYA :  Usai Lakukan Penelusuran, Pemkot Samarinda Temukan Kendala Soal Standar Harga Jual Tabung Oksigen dan Regulator 

Arven menjelaskan, selain lebam, beberapa kadernya yang mengikuti unjuk rasa itu mengalami luka-luka seperti terkilir dan memar.

Arven mengatakan mulanya massa HMI se-Jabodetabek menggelar aksi damai terkait nasib Muhammad Fikry di depan Istana Merdeka.

Namun, pihak kepolisian membubarkan mereka dengan alasan titik demo berada di objek vital.

Massa aksi sempat meminta waktu beberapa menit untuk membacakan poin tuntutan dan bergeser ke kawasan Patung Kuda.

Namun, kemudian terjadi cekcok, saling dorong dengan aparat, hingga saling pukul.

Menurut Arven, pihak kepolisian mengklaim pimpinan mereka dipukul.

Namun, kata dia, hal itu tidak mungkin karena jumlah massa aksi lebih sedikit.

“Secara jumlah massa enggak mungkin kita juga anarkis karena kita tahu massa kita lebih sedikit, dan kita tahu ini kan aksi damai cuma sekadar menyuarakan,” pungkasnya. (*)

1.053 Tayangan