Tiga Wilayah Jawa Kuasai 50 Persen Lebih Total Suara Nasional, Bagaimana dengan DKI Jakarta?

oleh -
oleh
Ketiga Capres RI di Pilpres 2024/HO

PUBLIKKALTIM.COM – Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menyoroti peta pertarungan politik di Jakarta.

Menurutnya, Jakarta tak terlalu diperhatikan oleh ketiga paslon yang bertarung dalam Pilpres 2024.

Pasalnya, jumlah pemilih di Jakarta tidak masuk dalam tiga besar suara nasional.

“Kenapa DKI Jakarta kurang diperhatikan tentu adalah dari sisi jumlah, kenapa karena dia tidak masuk dalam populasi yang cukup besar,” ujarnya.

Dibanding harus bertarung mendulang suara di Ibu Kota, kata Dedi, para paslon lebih memilih berjuang merebut pemilih di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Menurutnya, Jawa Tengah kini yang paling diperebutkan oleh para capres-cawapres.

Dedi menyebut Jawa Tengah menjadi penentu karena selama ini selalu dikuasai PDIP yang mengusung Ganjar-Mahfud.

“Jateng dianggap sebagai penentu karena Jabar dan Jatim itu oleh partai-partai lain sudah mendapat porsi kira-kira begitu, hanya tinggal Jateng saja yang per 2019 juga masih didominasi PDIP,” jelasnya.

Kendati demikian, Pengamat Politik dari Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menyebut DKI Jakarta menjadi prioritas kedua setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

BERITA LAINNYA :  Tak Jera, Pernah Tersandung Kasus Narkotika, Pria Ini Kembali Ditangkap Polisi 

Tiga wilayah itu menguasai 50 persen lebih total suara nasional.

Jawa Barat memiliki35.714.901 pemilih, Jawa Timur31.402.242 pemilih, sedangkan Jawa Tengah28.289.413 pemilih.

“Tetap (DKI Jakarta) itu menjadi target (mendulang suara), tetapi prioritas kedua,” ujar  Karyono dikutip dari CNNIndonesia, Selasa (6/2).

Meski hanya memiliki sekitar 8,2 juta pemilih, Karyono menyebut Jakarta tetap punya kelebihan tersendiri.

Ini terkait dengan gengsi politik para paslon jika berhasil memenangkan suara di Jakarta.

“Karena DKI Jakarta itu menjadi pusat pemerintahan, kemudian pusat ekonomi, sebagai epicentrum politik nasional, tetap menarik karena ada gengsi politik di situ,” pungkasnya. (*)