75 Tahun Hubungan RI-Prancis, Indonesia Tampil di Bastille Day 2025

oleh -
oleh
Indonesia mengirimkan 451 personel gabungan TNI dan Polri untuk tampil dalam defile militer di Champs-Élysées, Prancis/IG Prabowo Subianto

PUBLIKKALTIM.COM – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto hadir sebagai tamu kehormatan dalam perayaan Hari Nasional Prancis (Bastille Day) yang digelar di Champs-Élysées, Paris, Senin (14/7).

Kehadirannya atas undangan langsung Presiden Prancis Emmanuel Macron, menandai momen penting dalam hubungan bilateral Indonesia–Prancis yang telah terjalin selama 75 tahun sejak 1950.

Sebagai bentuk partisipasi, Indonesia mengirimkan 451 personel gabungan TNI-Polri untuk tampil dalam defile militer dan pertunjukan drum band, bergabung bersama kontingen militer dari berbagai negara sahabat.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, yang turut mendampingi Presiden Prabowo dalam kunjungan tersebut, menyatakan bahwa partisipasi Indonesia mencerminkan pengakuan internasional terhadap profesionalisme prajurit Indonesia.

“Ini menjadi simbol kuat hubungan diplomatik Indonesia-Prancis yang memasuki usia ke-75. Kehadiran pasukan TNI-Polri juga menunjukkan komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia dan diplomasi pertahanan,” ujar Fadli dalam keterangan resmi, Selasa (15/7).

Ia menambahkan bahwa keikutsertaan dalam Bastille Day adalah cermin integritas, kedisiplinan, dan semangat kebangsaan pasukan Indonesia di panggung global.

BERITA LAINNYA :  Realisasi Probebaya di Loa Janan Ilir Capai 78 Persen, Ini Pesan Wali Kota Andi Harun

Selain menghadiri perayaan militer, Fadli Zon juga menyempatkan diri mengunjungi Museum Phono Paris, yang menyimpan koleksi sejarah rekaman suara sejak abad ke-19.

Museum ini menampilkan artefak bersejarah seperti ponograf, gramofon, tape recorder, hingga format digital MP3 yang menggambarkan evolusi teknologi audio dari masa ke masa.

“Koleksi ini relevan dengan misi Kementerian Kebudayaan dalam menjaga warisan budaya takbenda, seperti tradisi lisan dan rekaman musik. Kita bisa belajar banyak dari cara Prancis merawat arsip suara mereka,” tutur Fadli. (*)

1.075 Tayangan