PUBLIKKALTIM.COM – Presiden Joko Widodo (Jokowi) bakal mengumumkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pertalite dan solar pekan ini.
Hal itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan.
“Mungkin minggu depan presiden akan mengumumkan mengenai apa dan bagaimana mengenai kenaikan harga ini,” ujar Luhut, Jumat (18/8) lalu.
Menurutnya alasan utama Jokowi untuk menaikkan harga pertalite adalah keuangan negara yang hampir jebol.
Bagaimana tidak, subsidi energi akibat kenaikan harga minyak dunia melonjak jadi Rp502,4 triliun di 2022.
“Jadi presiden sudah mengindikasikan, tidak mungkin kita pertahankan demikian, karena harga BBM kita termurah sekawasan dan itu beban untuk APBN,” jelasnya.
Dampak inflasi akan kenaikan harga pertalite dan solar ini-pun dikatakan sudah dipertimbangkan oleh pemerintah.
Jadi seluruh persiapan sudah dilakukan sebelum nantinya diumumkan oleh Jokowi.
“Inflasi tergantung nanti kenaikan berapa solar, berapa pertalite, karena bagaimanapun tidak bisa kita pertahankan demikian,” pungkasnya.
Menanggapi hal itu, DPR RI melalui Komisi VII DPR menyatakan pihaknya setuju dengan adanya kenaikan harga BBM jenis Pertalite dan Solar Subsidi untuk naik 30%.
Namun, kenaikan harga BBM tersebut bukan berarti mencabut subsidi BBM.
Ketua Komisi VII DPR, Sugeng Suparwoto mengatakan bahwa secara eksplisit dari Partai Nasdem mengusulkan kenaikan harga BBM Pertalite dan Solar Subsidi mencapai 30%.
“Pertalite Rp10.000/liter eksplisit dari Nasdem, dengan catatan tetap ada subsidi. Karena kan keekonomian Pertalite itu Rp 17.000-an/liter, jadi memang harus tetap disubsidi,” ungkap dia dalam Raker bersama Menteri ESDM, Arifin Tasrif, Rabu (24/8/2022).
Sugeng meminta subsidi BBM juga harus tepat sasaran, kenaikan harga BBM harus dibarengi dengan pembatasan pembelian Pertalite.
“Dalam tingkat tertentu kami ingin subsidi diberikan ke orang bukan barang seperti ke BBM,” pungkasnya. (*)