PUBLIKKALTIM.COM, SAMARINDA – Isu gender merupakan salah satu isu utama dalam pembangunan, khususnya pembangunan sumber daya manusia.
Isu tersebut juga ditanggapi serius untuk oleh Pemerintah Kota Samarinda (Pemkot).
Pemkot Samarinda berharap, perempuan mendapatkan hak setara atas pilihan politik, perlindungan hukum, serta penguatan ekonomi melalui strategi pemberdayaan.
Hal itu dibahas dalam webinar bertajuk ‘Woman Enterpreneurship’.
Webinar tersebut digelar oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2PA) Kota Samarinda secara virtual pada, Rabu, (20/4/2022).
Webinar tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Bungah Gerecek Samarinda dalam menyambut hari kelahiran RA Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April.
Dalam kesempatan itu, Sekretaris DP2PA Samarinda, Deasy Evriyani, menjelaskan bahwa kegiatan webinar ini, sekaligus untuk mendukung program prioritas Wali Kota Samarinda Andi Harun dalam menciptakan 10.000 pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
“Kami mendorong peningkatan ekonomi setelah pandemi Covid-19 melalui pemberdayaan perempuan,” ujarnya, Rabu, (20/4/2022).
Lebih lanjut, Deasy menjelaskan, melalui Bidang Kualitas Hidup Perempuan DP2PA Samarinda yang menangani Pengarusutamaan Gender (PUG) di bidang ekonomi, sosial, budaya, hukum dan politik, menemukan indeks pemberdayaan gender di Kota Samarinda masuk urutan ke-2 dari paling bawah dibanding kabupaten/kota lainnya di Kaltim.
“Jadi ini menjadi tantangan kita semua. Melalui pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan hukum dan politik, perempuan didorong untuk mengambil peran di sana. Bisa bersuara dalam proses pembangunan, khususnya pembangunan di Kota Samarinda,” ungkapnya.
Tak hanya itu, dalam webinar dengan menghadirkan narasumber Anggraini Ling, seorang entrepeurner dan motivator breakthrough generation, serta Desi Soleha selaku Owner Batik Tulis Putri Syafril dan pengurus IWAPI Samarinda, webinar dikatakan Deasy banyak membagi pengalaman dalam upaya penciptaan start up untuk perempuan.
Termasuk, soal bagaimana perempuan didorong mampu menghasilkan produk karya-karya seni seperti batik khas Kota Samarinda, lukisan, fashion, wastra, yang kemudian memiliki nilai tawar dan dapat dijadikan sebagai pendapatan lain.
“Saling membagi pengetahuan kepada perempuan agar membantu perekonomian, hingga ujungnya adalah terciptanya ketahanan keluarga,” jelas Deasy.
Sementara itu, upaya pemberdayaan perempuan oleh DP2PA Samarinda dikatakan Deasy dilakukan bersamaan dengan mitra kerja.
Teranyar, sedang diwacanakan program ‘Mom’s preneur’ yang mewadahi perempuan untuk berusaha.
Kegiatan itu didukung juga oleh Dekranasda Kota Samarinda sebagi mitra kerja yang dapat bersama-sama menciptakan ekonomi kreatif bagi perempuan di Kota Samarinda.
“Kami memfasilitasi Mom’s preneur, melalui ini kami bergerak sampai ke akar rumput yaitu di RT-RT, kemudian menggali dan mengajak untuk kasus-kasus tematik. Kami mengajak seluruh perempuan yang terkena dampak KDRT untuk aktif dalam program pemberdayaan,” imbuhnya. (Advertorial)