PUBLIKKALTIM.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai menaruh perhatian serius terhadap pemanfaatan Bandara Internasional Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto sebagai jalur distribusi kargo, khususnya dalam mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut.
Asisten II Pemkot Samarinda, Marnabas, menyebutkan bahwa potensi lalu lintas barang di bandara APT Pranoto sejauh ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Berdasarkan data tahun 2025, tercatat sekitar 2 juta kilogram barang masuk melalui Bandara APT Pranoto.
Namun, volume barang keluar dari Samarinda melalui bandara tersebut masih tergolong rendah.
“Kondisi ini menunjukkan adanya potensi besar yang belum tergarap. Diduga sebagian barang justru dikirim lewat jalur lain di luar APT Pranoto,” ujar Marnabas.
Menurutnya, banyak pelaku UMKM yang belum mengetahui bahwa APT Pranoto telah melayani jasa pengiriman kargo.
Karena itu, Pemkot berencana menggelar sosialisasi untuk memperkenalkan layanan tersebut kepada para pengusaha lokal.
“Kami ingin agar UMKM, misalnya produsen amplang, bisa memanfaatkan fasilitas kargo APT Pranoto. Sosialisasi akan segera dilakukan agar mereka tahu dan bisa menghitung biaya logistik secara lebih efisien,” jelasnya.
Ia menjelaskan pemanfaatan kargo bandara diyakini akan memberi multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi lokal.
Apalagi, status APT Pranoto kini sudah menyandang predikat bandara internasional dengan rute penerbangan reguler menuju Surabaya dan Jakarta, serta rencana pembukaan rute baru ke Banjarmasin dan Bali.
“Dengan makin banyaknya rute, akses distribusi barang dari Samarinda ke berbagai daerah akan semakin luas. Ini peluang besar bagi UMKM untuk memperluas pasar,” katanya.
Meski begitu, ia mengakui bahwa soal biaya pengiriman masih perlu dipublikasikan secara jelas dan meminta Dinas Komunikasi dan Informatika untuk menyebarkan informasi tarif kargo secara transparan.
“Misalnya berapa ongkos kirim per kilogram ke Surabaya, harus jelas agar masyarakat bisa membandingkan. Jangan sampai kalah bersaing dengan jalur lain hanya karena informasinya kurang terbuka,” pungkasnya. (*)