PUBLIKKALTIM.COM, SAMARINDA – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda akan membuka kembali aktivitas pedagang di Tepian Mahakam Samarinda.
Rencananya pemkot akan memberi izin para pedagang kaki lima (PKL) untuk berjualan di kawasan tersebut pada 20 November 2021 mendatang.
Mengenai rencana itu, anggota Komisi II DPRD Samarinda, Laila Fatihah meminta agar Pemkot dapat melakukan pengawasan secara intensif aktivitas pedagang dan masyarakat di kawasan tepian setelah dibuka kembali.
Menurutnya, wilayah yang notabene-nya masuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) itu harus bisa ditata dan tidak membuat kekumuhan seperti waktu-waktu ke belakang.

“Kami tidak ada niatan menutup rejeki orang lain. Harapan kami apa yang sudah disiapkan pemerintah kota, bisa dipelihara,” kata Laila sapaanya, Selasa (16/11/2021).
Diketahui, Pemkot Samarinda saat ini telah melakukan kerjasama dengan Bankaltimtara untuk mengelola kawasan tepian agar tidak kumuh.
Bahkan Bankaltimtara akan memberikan 27 rombong, 33 meja, dan 132 kursi untuk digunakan para pedagang.
Tujuannya agar aktivitas pedagang kian tertib dan rapi.
Dikatakan Laila, dengan adanya fasilitas-fasilitas tersebut, diharapkan para pedagang yang telah diizinkan berjualan tak lagi menambah rombong-rombong baru diluar dari jumlah yang telah ditetapkan Pemkot Samarinda.
“Setelah berjualan disimpan di tempat yang tidak terlihat oleh masyarakat. Intinya, saat waktu siang bisa rapi, dan malamnya silahkan berjualan,” katanya.
Dengan demikian, Laila menyebutkan hal itu bisa dinikmati oleh masyarakat sekaligus menjadi sumber peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Samarinda, utamanya dalam hal parkir.
Politisi asal fraksi Partai PPP itu menegaskan, jika nantinya diterapkan pungutan retribusi parkir di kawasan Tepian Mahakam, maka bentuk pengelolaannya sebaiknya langsung di bawah Pemkot Samarinda.
Hal itu guna menghindari kebocoran PAD dengan adanya pungli-pungli oleh oknum tak bertanggung jawab.
“Pun kalau ingin berkerjasama dengan pihak ketiga, harus jelas dari sisi pembagiannya. Jangan sampai keduluan pungli oleh oknum-oknum yang mencari kesempatan. Preman-preman kan, biasanya begitu,” pungkasnya (Advertorial)