Perluas Pemeriksaan Kesehatan Pelajar, Dinkes Samarinda Fokus pada Cek Gula Darah dan Gigi

oleh -
oleh
Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih/ist

PUBLIKKALTIM.COM –  Pemeriksaan kesehatan bagi pelajar sekolah menengah terus digencarkan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui Dinas Kesehatan (Dinkes).

Jika sebelumnya kegiatan hanya terfokus pada imunisasi, kini pemeriksaan juga mencakup cek gula darah dan kesehatan gigi.

Langkah ini diambil sebagai upaya deteksi dini penyakit tidak menular pada anak usia sekolah.

Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan bahwa pemeriksaan dilakukan rutin setiap tahun bersamaan dengan pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Program ini menyasar siswa kelas 7 SMP hingga kelas 11 SMA dan dilaksanakan langsung oleh petugas kesehatan yang mendatangi sekolah-sekolah.

“Dulu kegiatan penjaringan anak sekolah hanya fokus pada imunisasi. Sekarang disatukan dengan pemeriksaan kesehatan, termasuk cek gula dan kesehatan gigi. Jadi petugas Dinkes yang proaktif datang ke sekolah,” ujar Ismed, Jumat (11/10/2025).

Dari hasil pemeriksaan tahun ini, karies gigi tercatat sebagai masalah kesehatan paling umum yang dialami pelajar.

Temuan ini disebut merata hampir di seluruh sekolah, tidak hanya di Samarinda, tetapi juga menjadi masalah nasional.

“Hasil pemeriksaan yang paling tinggi itu karies gigi, dan ini merata hampir di semua sekolah,” ungkapnya.

BERITA LAINNYA :  Andi Harun Prihatin dengan Gaji Pekerja yang Belum Penuhi Standar UMR dan UMK di Samarinda

Meski demikian, Ismed menyebut bahwa secara umum kondisi kesehatan anak-anak di Samarinda masih tergolong baik.

Hal ini menurutnya tak lepas dari kolaborasi lintas sektor, salah satunya melalui program Pro Bebaya yang mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

“Dalam dua-tiga tahun terakhir, kondisi kesehatan masyarakat sangat terbantu dengan adanya kolaborasi lintas kegiatan, terutama lewat program Pro Bebaya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Dinkes Samarinda juga mencatat adanya penurunan angka kasus demam berdarah dengue (DBD) berkat sinergi antarinstansi.

Meski sempat meningkat, kasus tersebut tidak sampai menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).

“Kesehatan itu tidak bisa berdiri sendiri. Semua harus bergerak dari hulu ke hilir. Saat semua sektor berjalan bersama, hasilnya akan terlihat. Sama seperti saat kita hadapi Covid-19,” pungkas Ismed. (*)

1.032 Tayangan