PUBLIKKALTIM.COM – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Republik Indonesia mencatat kemajuan signifikan dalam penanganan korban kecelakaan pesawat ATR 42-500. Petugas medis dan ahli forensik berhasil merampungkan proses identifikasi jenazah Florencia Lolita Wibisono pada Rabu (21/1). Keberhasilan ini menjadi titik terang bagi keluarga korban yang menunggu kepastian di tengah suasana duka yang mendalam.
Tim DVI menerima satu kantong jenazah berisi korban perempuan untuk menjalani pemeriksaan intensif di fasilitas medis Makassar. Kabid Dokkes Polda Sulawesi Selatan, Kombes Pol Muhammad Haris, memimpin langsung pengumuman hasil identifikasi tersebut kepada awak media. Haris menjelaskan bahwa timnya bekerja cepat setelah menerima data post mortem nomor 62B01 yang masuk ke meja pemeriksaan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan kecocokan mutlak antara data fisik jenazah dengan data ante mortem nomor AM004. Berdasarkan dokumen resmi, jenazah tersebut merupakan Florencia Lolita Wibisono, seorang perempuan berusia 33 tahun. Korban tercatat sebagai penghuni Apartemen Wak Tower A Unit 216, Pulogadung, Jakarta Timur, yang sedang bertugas saat kecelakaan tragis tersebut terjadi.
Metode Sains dalam Identifikasi Jenazah Florencia
Pihak kepolisian menerapkan standar internasional dalam proses identifikasi jenazah Florencia guna menghindari kesalahan prosedur. Kombes Pol Muhammad Haris menegaskan bahwa para ahli meneliti berbagai aspek medis secara mendalam. Tim mengevaluasi pemeriksaan sidik jari, struktur gigi, properti yang melekat pada tubuh, hingga ciri-ciri medis khusus yang keluarga laporkan sebelumnya.
“Kami mencocokkan semua temuan pada tubuh korban dengan data primer yang kami miliki,” ujar Haris di hadapan wartawan. Selain itu, keterlibatan tim dari berbagai disiplin ilmu memperkuat validitas hasil ini. Para ahli memastikan bahwa setiap detail kecil pada tubuh korban memberikan petunjuk yang konsisten menuju identitas asli Florencia.
Selain data medis primer, tim DVI juga memeriksa barang-barang pribadi atau properti yang korban kenakan saat kejadian. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat bukti fisik pendukung selain sidik jari dan rekam medis gigi. Sinergi antara berbagai metode ini menghasilkan kesimpulan yang sah secara hukum dan meyakinkan secara keilmuan.
Kondisi Fisik Memudahkan Kerja Tim Inafis
Kapusident Bareskrim Polri, Brigjen Pol Mashudi, memberikan apresiasi tinggi terhadap kondisi jenazah yang masih relatif baik. Hal ini memberikan keuntungan besar bagi tim identifikasi, terutama dalam pengambilan data sidik jari. Menurut Mashudi, kondisi kulit yang terjaga memudahkan alat pemindai membaca pola papiler pada jari tangan korban dengan tingkat akurasi tinggi.
“Jenazah tiba dalam keadaan yang cukup bagus sehingga pola sidik jari masih terbaca jelas oleh peralatan kami,” kata Mashudi. Ia menambahkan bahwa tim Inafis langsung melakukan pemindaian digital segera setelah proses evakuasi awal selesai. Peralatan modern milik Polri mempercepat pencarian basis data kependudukan sehingga identitas Florencia muncul dalam waktu singkat.
Meskipun teknologi digital memberikan hasil cepat, Mashudi tetap mengedepankan pembuktian ilmiah manual sebagai pembanding. Ia memerintahkan jajarannya untuk tetap melakukan verifikasi dua lapis demi menjaga integritas hasil identifikasi. Hal ini menunjukkan komitmen Polri dalam memberikan kepastian hukum yang tak terbantahkan bagi pihak keluarga.
Validasi Manual dan Keyakinan Ilmiah Polri
Tim spesialis kemudian mengambil sampel sidik jari jempol tangan kiri dari jenazah untuk perbandingan manual. Mereka menyandingkan pola garis tersebut dengan data pembanding asli yang tersimpan dalam arsip kependudukan. Proses pembandingan manual ini berfungsi untuk menghilangkan keraguan sekecil apa pun terkait hasil identifikasi jenazah Florencia.
Brigjen Pol Mashudi menegaskan bahwa timnya memiliki keyakinan penuh terhadap hasil kerja ini. “Kami meyakini identitas ini secara sains dan keilmuan berdasarkan standar operasional yang berlaku,” tegasnya lagi. Keyakinan tersebut muncul karena tidak ada satu pun poin perbedaan antara data korban dengan data pembanding yang tersedia di pusat data Polri.
Pihak kepolisian kini mempersiapkan proses penyerahan jenazah kepada pihak keluarga di Jakarta. Dengan selesainya identifikasi ini, keluarga dapat segera melaksanakan prosesi pemakaman secara layak. Polri berjanji akan terus bekerja keras mengidentifikasi korban lain yang masih berada dalam proses pemeriksaan di RS Bhayangkara. Kerja keras tim DVI menjadi bukti dedikasi kepolisian dalam melayani masyarakat, terutama dalam situasi bencana penerbangan seperti saat ini.
(Redaksi)