PUBLIKKALTIM.COM – Pemerintah Jepang dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memilih untuk tidak menyebut secara langsung Amerika Serikat sebagai pihak yang menjatuhkan Bom Atom di Nagasaki, pada 9 Agustus 1945 dalam peringatan 80 tahun peristiwa tersebut.
Diketahui, pengeboman Hiroshima dan Nagasaki itu menewaskan sekitar 200.000 warga sipil.
“Kita harus mewariskan sebagai kenangan apa yang terjadi di Jepang 80 tahun yang lalu—realitas dan tragedi perang, serta dampak brutal dari kerusakan yang ditimbulkan oleh bom atom,” ujar Perdana Menteri Jepang Ishiba Shigeru dalam pidatonya.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, melalui kepala perlucutan senjatanya Izumi Nakamitsu, menyerukan aksi nyata dari negara-negara dunia untuk memperkuat rezim pelucutan senjata dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) sebagai landasan utama.
Sementara itu, Wali Kota Nagasaki, Shiro Suzuki, mendesak para pemimpin dunia untuk mengambil langkah konkret guna mencapai penghapusan total senjata nuklir.
Langkah Jepang menghindari penyebutan Amerika Serikat dalam peringatan tahunan ini dianggap sebagai kelanjutan dari kebijakan diplomatik yang berhati-hati.
Sejak akhir Perang Dunia II, Jepang dan AS menjalin hubungan strategis yang erat, termasuk dalam bidang keamanan dan ekonomi.
Meski demikian, kritik tetap muncul dari sejumlah kalangan yang menilai bahwa narasi sejarah menjadi “terpotong” karena tidak menyebutkan pelaku pengeboman.
Pada akhir Perang Dunia II, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945), menjadikannya satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir dalam perang.
Serangan tersebut disebut-sebut menjadi faktor utama yang mendorong Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.
Namun, sebuah laporan dari Survei Pengeboman Strategis AS pada 1946 menyimpulkan bahwa Jepang kemungkinan akan menyerah bahkan tanpa penggunaan bom atom.
Peringatan tahun ini berlangsung di tengah ketegangan baru terkait isu nuklir.
Bulan lalu, Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap tiga lokasi di Iran yang diklaim terkait program nuklir negara tersebut.
Washington menyatakan serangan itu bertujuan mencegah pengembangan senjata nuklir oleh Teheran.
Namun, Iran membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa program nuklirnya sepenuhnya untuk tujuan damai sesuai dengan hak yang diberikan oleh NPT.
Langkah AS itu menuai kritik dari sejumlah negara, termasuk Rusia dan China, yang menuduh Washington merusak upaya perlucutan senjata global dan menerapkan standar ganda dalam isu non-proliferasi. (*)