PUBLIKKALTIM.COM – Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI secara resmi menyelenggarakan peringatan 71 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA).
Momentum bersejarah ini berfungsi sebagai langkah taktis pemerintah dalam menghidupkan kembali semangat Dasasila Bandung pada era modern.
Acara yang mengusung tema besar “Bandung Spirit: Budaya sebagai Jembatan Perdamaian Dunia” ini berlangsung di Hotel Savoy Homann, Bandung.
Melalui agenda ini, kementerian berupaya memosisikan Diplomasi Budaya Indonesia sebagai instrumen utama dalam merajut perdamaian di tengah tensi global yang memanas.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan pidato kebudayaan yang menyoroti kerentanan stabilitas dunia saat ini.
Beliau menekankan bahwa masyarakat internasional tengah menghadapi fase ketidakpastian global yang sangat mengkhawatirkan.
Kondisi tersebut memicu erosi kepercayaan antarnegara yang terlihat dari meningkatnya rivalitas geopolitik serta perlombaan persenjataan yang tidak terkendali.
Selain itu, Fadli Zon mengingatkan bahwa ketegangan ini sering kali berujung pada kerusakan permanen terhadap identitas sejarah bangsa-bangsa di dunia.
Strategi Melindungi Identitas Bangsa di Tengah Konflik
Fadli Zon memberikan perhatian khusus terhadap ancaman nyata bagi warisan budaya yang sering kali menjadi korban pertama dalam peperangan.
Perusakan situs-situs bersejarah di berbagai belahan dunia merupakan kehilangan besar bagi peradaban manusia secara keseluruhan.
Oleh karena itu, beliau menegaskan bahwa semangat Bandung Spirit harus tetap menjadi kompas moral bagi para pemimpin dunia. Beliau meyakini bahwa perlindungan terhadap kebudayaan merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan dan bermartabat.
Dalam pidato resminya, Fadli Zon memberikan pernyataan yang sangat kuat mengenai tanggung jawab moral komunitas global.
“Jika kita ingin membangun perdamaian yang berkelanjutan, maka kita harus melindungi kebudayaan. Kita harus memastikan bahwa tidak ada perang yang menghapus sejarah suatu bangsa, tidak ada dominasi yang membungkam identitas, dan tidak ada sistem global yang mengabaikan suara mereka yang lemah,” tegas Fadli Zon melalui keterangan tertulis pada Minggu (19/4/2026).
Pernyataan ini mempertegas bahwa Diplomasi Budaya Indonesia tidak hanya fokus pada promosi, tetapi juga pada advokasi kemanusiaan internasional.
Komitmen Politik Luar Negeri dan Visi Indonesia Emas
Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto secara konsisten menjaga posisi di jalur politik luar negeri non-blok.
Fadli Zon menjabarkan bahwa Indonesia terus aktif membangun pola kerja sama global yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip Piagam PBB secara murni dan konsekuen.
Di sisi lain, penguatan ketahanan nasional juga menjadi prioritas utama melalui pembangunan sumber daya manusia dan kemandirian pangan.
Jadi, seluruh upaya internasional ini selaras dengan langkah-langkah domestik menuju pencapaian target Indonesia Emas 2045.
Selanjutnya, rangkaian acara ini juga menghadirkan dialog kebudayaan bertajuk “Refleksi Nilai Historis Konferensi Asia Afrika dalam Perspektif Kebudayaan”.
Diskusi ini mengundang pakar dan pembuat kebijakan seperti Duta Besar Mesir untuk Indonesia Yasser Hassan Farag Elshemy, anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa, serta akademisi Universitas Paramadina Anton Aliabbas.
Staf Ahli Menteri Kebudayaan Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri memandu jalannya dialog tersebut dengan fokus pada implementasi nilai KAA dalam kebijakan kontemporer.
Para narasumber sepakat bahwa Diplomasi Budaya Indonesia merupakan aset lunak (soft power) yang sangat berharga.
Inisiatif Kota Bandung Menuju Status Warisan Dunia UNESCO
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan turut memberikan kontribusi penting dalam diskusi ini dengan memaparkan inisiatif pemerintah daerah.
Beliau mengusulkan agar kawasan Simpang Lima, sepanjang Jalan Asia Afrika, hingga Jalan Otista mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.
Menurut beliau, langkah administratif ini sangat krusial untuk mempertahankan identitas visual serta nilai sejarah yang melekat kuat pada Kota Bandung.
Muhammad Farhan berharap pengakuan internasional tersebut dapat menjaga marwah kota sebagai titik kumpul gerakan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.
Selain itu, Kementerian Kebudayaan meluncurkan karya literasi visual melalui buku berjudul “Konferensi Asia Afrika dalam Gambar”.
Buku ini merekam setiap momen krusial peristiwa tahun 1955 secara kronologis dan artistik. Fadli Zon menjelaskan bahwa dokumentasi visual ini memiliki peran penting dalam mengedukasi generasi muda mengenai peran besar Indonesia di masa lalu.
“Album ini bercerita tentang bagaimana mulai dari kedatangan para peserta, suasana sidang, bahkan suasana diskusi, sampai dengan acara-acara kebudayaan, yang menggambarkan secara kronologis bagaimana peristiwa KAA terjadi di Bandung,” jelas beliau.
Peringatan 71 tahun KAA juga menghadirkan pameran foto yang menggunakan pendekatan kuratorial edukatif bagi para pengunjung.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk menjadikan kebudayaan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.
Pemerintah percaya bahwa dengan memperkuat jati diri dan kedaulatan budaya, Indonesia dapat terus berperan sebagai penengah konflik sekaligus pendorong perdamaian dunia.
Pada akhirnya, Diplomasi Budaya Indonesia akan menjadi jembatan permanen yang menghubungkan persaudaraan antarnegara melewati batas-batas perbedaan politik.
(Redaksi)